Ini tentang pernikahan saya
Bulan Desember 2005 lalu, saya menikah. Waktu itu umur saya 21 tahun lebih 6 bulan. Kabar rencana pernikahan saya saat itu cukup menggemparkan warga kampus dan teman-teman lain baik di kampus, luar kampus, luar kota, juga orang-orang kostan plus keluarga besar. Terlalu muda, masih kuliah, dan calonnya siapa, belum jelas, yah seputar itu lah reaksi yang mereka munculkan.
Saya tau, banyak yang mempertanyakan ke Mama dan Papa, mengapa saya diijinkan menikah di usia yang relatif muda. Saya menyaksikan dan mendengar secara langsung dan tidak langsung, reaksi apa saja yang muncul atas rencana itu. Kuperhatikan Mama dan Papa berusaha dengan tenang dan bijaksana menanggapi setiap reaksi baik maupun reaksi sengit (Umm… Saya terkesima, mereka sangat kompak dan tenang…padahal ini pengalaman pertama mereka menikahkan anak perempuannya). Saya belajar dan paham, Mama dan Papa sangat memegang kuat argumennya atas keputusan yang mereka ambil. Perbedaan mendasar atas keluarga saya dan keluarga calon suami saya saat itu pun sangat mendasar dan mungkin bagi sebagian orang perbedaan tersebut sulit untuk dipadukan, atau minimal sulit diterima. Saya juga pasrah waktu itu walau ternyata akhirnya beliau berdua memberikan ijin, toh saya yang akan menjalaninya, saya yang bertanggung jawab atas keputusan ini. Saat itu saya makin mendekatkan diri pada Allah, takut sekali jika saya salah jalan. Saya berusaha segalanya didasarkan dengan melibatkan Allah. Yang saya rasakan waktu itu mengapa sampai akhirnya menerima pinangan calon suami saya adalah, banyaknya kemudahan-kemudahan yang saya dapati, yang gongnya adalah persetujuan dari kedua orangtua saya. Seperti yang sudah saya bilang, meski banyak perbedaan antara keluarga saya dan keluarga suami saya, ternyata itu tidak menjadi masalah bagi orangtua saya dan saya sendiri. Orangtua saya sepertinya saat itu yakin bahwa calon suami saya adalah orang baik, tegas, dan dapat diandalkan.
Saya sadar banyak hal yang sulit dikontrol saat itu. Calon suami saya belum bekerja, tetapi sudah hampir pasti diterima di sebuah perusahaan. Tingkat stressnya tinggi sekali sehingga persoalan-persoalan menyangkut pelaksanaan hari H menjadi perbincangan yang sangat sensitif. Sempat ada gejolak kecil antara keluarga kami. Saya heran, selalu saja ada persoalan terkait pelaksanaan hari H. Apa mungkin saat itu hati sedang tidak bersih, tidak dekat dengan Allah sehingga kami saling keliru mengartikan maksud lawan bicara kami…
Hari H pun terlewati. Saya menyadari betapa hari H hanya sebagai awalan yang bukan merupakan gambaran sesungguhnya mengenai pernikahan itu sendiri. Saya benar-benar memahami, kehidupan pernikahan, yakni setelah akad nikah dan selanjutnyalah yang justru harus dijadikan perhatian khusus. Sekali lagi,… kesiapan mental untuk menjalankan tanggung jawab! Betapa indahnya pernikahan yang dijalani dengan ilmu. Segala sesuatu akan terasa nikmat karena di dalamnya adalah ibadah dan banyak sekali cara mendulang pahala. Hal sederhana yang saya anggap remeh temeh ternyata begitu berarti di hadapan Allah. Menentramkan suami dengan cara yang disukainya adalah makna dari ‘baiti jannati’ yang sesungguhnya (kaum Adam sering sekali mengucap ini kan?). Ternyata baiti jannati itu bukan rumahnya, melainkan istri yang menentramkan. Ah, indahnya menjadi umat Nabi Muhammad SAW… Ya Rabbi, saya bersyukur pada-Mu!!! Mudah-mudahan saya istiqamah menjalankan peran-peran saya, dan selalu mencari ilmu setiap saat.
Sampai saat ini, tentu banyak sudah pahit manis yang saya rasakan dalam pernikahan. Namanya juga pernikahan…
Bersyukurlah, semua yang terjadi dalam pernikahan adalah pelajaran berharga jika mau memaknainya sebagai pengabdian kepada Allah. Lakukanlah kewajiban kita, tunaikan hak pasangan dan anak-anak kita dengan hanya berharap kasih sayang Allah yang Maha Luas. Ya, perbaiki orientasi kita! Banyakin istighfar… Kalau kasih sayang Allah sudah dapat, nanti dapat bonus lainnya, soalnya kita manusia yang sering lupa dan banyak menuntut. Bersyukur, bersyukur, dan teruuuusss bersyukur…
Allah…hanya Allah sumber kebahagiaan sejati. Ya Rabbana, cintai saya…