GET THE FULLY FUNCTIONING SELF

May 14, 2012

Merindu

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 4:58 am

Betapa saya merindukan perbincangan hangat, yang mengalir, memancarkan segala emosi, menghidupkan sisi hati yang gelap.
Betapa benak ini mendamba kembali suasana penuh ketulusan. Tatap yang penuh atensi, indera dengar yang aktif berfungsi, dan gerak tubuh yang tampil senada konteks bincang.
Betapa inginnya berada dalam suatu saat yang penuh dengan kehangatan, saat-saat membicarakan kisah bermutu, jauh dari ghibah dan kesombongan.
Betapa pedih kala saya begitu ingin berjumpa dengan seseorang yang begitu polos dan apa adanya, bercakap dengan asyik, tertawa penuh ekspresi. Begitu sederhana, namun teramat mahal untuk dicapai.
Kumerindu…
Entah bagaimana mencegahnya hadir dalam mimpi di setiap malamku
Tak ada kuasa…
Hanya hati yang mampu menceritakan kembali segala belenggu dalam benak ini
Hanya hati yang bisa mengerti
Hanya hati yang lantang menjawab ‘kau tengah tersiksa’
Hanya hati yang berani mengatakan ‘kumerindu’…

Posted with WordPress for BlackBerry.

December 9, 2011

Untuk Sebuah Tanya

Filed under: Psikologi — by chandraniafastari @ 12:57 am
Tags: , ,

Saya baru mengerti, betapa garis hidup ini begitu cermat mengatur saya. Setiap peristiwa dalam kehidupan saya, ternyata seluruhnya terprogram begitu baik oleh Sang Pemberi Hidup dengan tujuan melindungi saya, menjaga saya, dan menuntun saya agar selamat. Dengan garis hidup tersebut saya dijauhkan dari berbagai hal kontroversial yang bisa saja saya jadikan pilihan hidup, misalnya tidak menikah (untungnya 6 tahun lalu saya dipertemukan dengan jodoh saya, jika tidak? Wow….)
Belakangan ini saya beberapa kali merenung dan membayangkan, apa jadinya jika di saat usia 27 tahun ini saya belum menikah? Tidak perlu berlama-lama menemukan jawaban, pasti saya memilih untuk sendiri; tidak menikah. Saya akan lebih nyaman dengan kesendirian. Saya mampu hidup dengan kenangan-kenangan indah yang pernah saya lalui bersama orang-orang yang pernah berarti di sebuah masa dalam hidup saya. Kenangan-kenangan tersebut sanggup memberikan energi bagi saya untuk jalani hidup. Saya merasa sudah cukup dengan memiliki orang tua, saudara-saudara, sahabat-sahabat, dan orang-orang baik lainnya sekeliling saya. Kebaikan, kasih sayang, dan kebersamaan dengan mereka bagi saya cukup.
Saya membayangkan jika masih lajang, saya pasti sibuk dengan berbagai pekerjaan dan jalan-jalan. Saya akan mengantar mama ke pasar atau kemanapun mama pergi. Saya akan mendatangi kota-kota yang pernah jadi tempat tinggal saya, bertemu orang-orang lama. Orang-orang lama yang masih berhubungan baik. Merekalah bagian dari sejarah, yang dapat kusebut ‘kenangan’ dan amat kupercaya mampu memberikan energi di masa kini.
Saya melihat beberapa kejadian dan kemudian menjadi sering berpikir, bagaimana bisa 2 orang sahabat lama yang tidak berjumpa belasan tahun, saat bertemu terlihat luwes dan masih sebaik belasan tahun lalu? Padahal saat itu belum ada alat komunikasi dan gadget-gadget secanggih hari ini. Mereka saling memeluk, menangis, tertawa, melepas rindu. Begitu bahagia.
Saya pun terheran-heran melihat semacam energi kehidupan pada seorang nenek berusia 90-an tahun saat ia bercerita kisah-kisah indah dalam hidupnya dengan raut wajah riang, intonasi yang stabil, serta gerak tubuh yang padu dengan ceritanya.
Bagaimana bisa? Saya teramat yakin, kedua sahabat tadi dipersatukan oleh kenangan masa lalu, sama halnya dengan si nenek 90-an tahun yang semangatnya seketika bangkit saat menceritakan kenangan hidupnya. Mereka adalah individu-individu yang ‘sendiri’. Mereka hidup dan mempertahankan jiwa mereka dengan kenangan. Kenangan yang indah, kenangan pemberi semangat, pemberi kekuatan.
Barangkali ketika saya belum menikah di usia 27 ini, saya akan bertahan untuk sendiri. Saya akan melanjutkan hidup hanya dengan kenangan. Saya akan melangkah memasuki masa depan seorang diri tanpa seorang laki-laki yang saya cintai di sisi saya. Saya akan melanjutkan hidup dengan menggandeng bayangan seseorang. Seseorang dari masa lalu. Di masa lalu sosok seseorang itu sangat nyata.. Seseorang yang pernah saya dambakan menjadi bagian dari jalan panjang dalam meraih impian dan menemani saya dalam hidup. Sekali lagi, saya hanya akan bersama seorang bayangan. Bayangan yang akan menemani saya sampai ujung usia…yang akan mampu membuat saya merasa bahagia dan merasa cukup.

Mengerikan…!
Ehm..tetapi syukurlah, saya tidak sampai melajang di usia 27 ini :) Kenyataannya, hidup saya telah diisi penuh dengan begitu banyak kesibukan, aktivitas rumah tangga, kuliah S2, dan berbagai hal lain… Saya hidup di masa ini, dengan energi yang segar, bukan semata-mata dari kenangan. Tidak dapat saya bayangkan bagaimana orang tua saya jika saya menjadi seperti yang saya paparkan tadi?
Benarlah, betapa Sang Pemberi Hidup telah mengatur kehidupan saya sebaik-baiknya sehingga saya bisa tetap berada di jalan yang seharusnya. Saya telah dijaga dan terlindung dari keputusan-keputusan gila. Dari keputusasaan, dan kesendirian.

—oOo—

December 6, 2011

Begah Otak

Filed under: Psikologi — by chandraniafastari @ 11:18 pm

Hadeuh, judulnya nggak banget ya. Begah otak…biasanya begah dipakai untuk mewakili keadaan “perut yang penuh”, ini malah saya pasangkan dengan kata “otak”. Entah musti pakai kata-kata apa saya menggambarkan kondisi kepenatan saya ini. Terlalu banyak denger cerita orang lain dan tidak saya tanggapi karena merasa sedang tidak siap, eh malah memberi efek begah otak buat saya. Penat. Saya pengen ceritain masalah-masalah beberapa orang yang bercerita pada saya, tentu dengan menyamarkan identitas. Nah, pekerjaan menyamarkan identitas orang lain ini juga buat saya cukup memakan energi, soalnya ketika sedang menguraikan sesuatu, semua mengalir dan refleks muncul nama aslinya..buyarlah konsentrasi saya, maklum gampang teralih atensinya nih hihihiii… OK lah nanti saya janji cerita, barangkali nulis aja dulu ya, nah pas mau di post jangan lupa edit extra ketat, betul?? ha ha ha… Intinya pengen berbagi cerita ya, biar ga begah-begah amat ni otak…. Just wait and see, OK?

December 5, 2011

Gaun Pengantin Muslimah

Filed under: pernikahan — by chandraniafastari @ 11:41 am
Tags: , , ,
Chandrania Fastari
Walimatul ‘Ursy (17 Desember 2005)

Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Desember… Bagi saya, bulan ini tergolong istimewa. Enam tahun yang lalu, tepat di bulan inilah saya menggenapkan separuh agama saya; menikah! Saya ingin sedikit bernostalgia dengan berbagi beberapa hal mengenai busana yang saya kenakan saat resepsi.

Saya adalah seorang muslimah yang berusaha mensyiarkan Islam di keseharian saya. Saya juga mencoba mewujudkannya dalam pernikahan saya, dengan menjadikan nuansa Islami sebagai konsep pernikahan saya tersebut. Nuansa islami yang saya maksud antara lain dengan memisahkan tamu laki-laki dan perempuan; ada dua pelaminan dalam 1 gedung. Tamu dipisahkan dengan pohon palem setinggi manusia yang disusun “membelah gedung”. Yang kedua, saya meminta pada pihak vendor untuk memperbanyak kursi agar tamu tidak makan sambil berdiri. Ketiga, hiburan yang ditampilkan adalah nasyid, munsyid laki-laki. Keempat, makanan halal dan thayyib;insyaAllah. Mungkin memang masih jauh dari sempurna, tetapi semoga saja niatan dan ikhtiar saya tetap bernilai ibadah di hadapan Sang Khalik.

Setelah menetapkan konsep, saya segera meminta perias untuk mendesain baju pengantin yang akan saya kenakan. Saya ingin menggunakan gamis longgar dan nyaman, ringan, cantik (hi hii…). Ibu Roro Rojak–perias saya–memberikan 2 pilihan desain. Desain yang saya pilih adalah yang terpampang di foto. Gaun tersebut terdiri dari dua pakaian, yang pertama gaun biru muda polos untuk baju bagian dalam, dan yang kedua juga berbentuk gamis berbahan tile, aksen umpak (tumpuk) dihias payet di bagian depan mulai dari dada sampai perut. Saya juga meminta agar bagian dada saya tertutup. Bahan yang digunakan untuk menutup dada berbahan tile polos, dipasang di busana saya sedemikian hingga menutup dada.  Mengenai riasan, saya meminta Ibu Roro tidak mengerok alis saya, saya takut dilaknat Allah, daripada mengurangi keberkahan prosesi pernikahan saya. Terima kasih Ibu Roro, yang tidak memaksa saya untuk dikerok alisnya.

Demikian cerita saya, lagi pengen nostalgia, dan berbagi desain busana pengantin…semoga berguna, ya…

May 19, 2011

Selamat Ulang Tahun

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 5:35 am

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh gelapnya tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Milyaran panah jarak kita
Tak juga tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah wahai waktu
Ada ‘selamat ulang tahun’
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta tanpa sarana
Saluran tuk kubicara

Jangan berjalan waktu
Ada ‘selamat ulang tahun’
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah wahai waktu
Ada ‘selamat ulang tahun’
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang selalu membara untuk dia yang terjaga menantiku…

Selamat Ulang Tahun
–Dee Lestari/rectoverso–

Selamat ulang tahun… :)

March 7, 2011

Pernikahanku

Filed under: Kehidupan,Keluarga — by chandraniafastari @ 6:06 pm
Tags:

Ini tentang pernikahan saya :)

Bulan Desember 2005 lalu, saya menikah. Waktu itu umur saya 21 tahun lebih 6 bulan. Kabar rencana pernikahan saya saat itu cukup menggemparkan warga kampus dan teman-teman lain baik di kampus, luar kampus, luar kota, juga orang-orang kostan plus keluarga besar. Terlalu muda, masih kuliah, dan calonnya siapa, belum jelas, yah seputar itu lah reaksi yang mereka munculkan.

Saya tau, banyak yang mempertanyakan ke Mama dan Papa, mengapa saya diijinkan menikah di usia yang relatif muda. Saya menyaksikan dan mendengar secara langsung dan tidak langsung, reaksi apa saja yang muncul atas rencana itu. Kuperhatikan Mama dan Papa berusaha dengan tenang dan bijaksana menanggapi setiap reaksi baik maupun reaksi sengit (Umm… Saya terkesima, mereka sangat kompak dan tenang…padahal ini pengalaman pertama mereka menikahkan anak perempuannya). Saya belajar dan paham, Mama dan Papa sangat memegang kuat argumennya atas keputusan yang mereka ambil. Perbedaan mendasar atas keluarga saya dan keluarga calon suami saya saat itu pun sangat mendasar dan mungkin bagi sebagian orang perbedaan tersebut sulit untuk dipadukan, atau minimal sulit diterima. Saya juga pasrah waktu itu walau ternyata akhirnya beliau berdua memberikan ijin, toh saya yang akan menjalaninya, saya yang bertanggung jawab atas keputusan ini. Saat itu saya makin mendekatkan diri pada Allah, takut sekali jika saya salah jalan. Saya berusaha segalanya didasarkan dengan melibatkan Allah. Yang saya rasakan waktu itu mengapa sampai akhirnya menerima pinangan calon suami saya adalah, banyaknya kemudahan-kemudahan yang saya dapati, yang gongnya adalah persetujuan dari kedua orangtua saya. Seperti yang sudah saya bilang, meski banyak perbedaan antara keluarga saya dan keluarga suami saya, ternyata itu tidak menjadi masalah bagi orangtua saya dan saya sendiri. Orangtua saya sepertinya saat itu yakin bahwa calon suami saya adalah orang baik, tegas, dan dapat diandalkan.

Saya sadar banyak hal yang sulit dikontrol saat itu. Calon suami saya belum bekerja, tetapi sudah hampir pasti diterima di sebuah perusahaan. Tingkat stressnya tinggi sekali sehingga persoalan-persoalan menyangkut pelaksanaan hari H menjadi perbincangan yang sangat sensitif. Sempat ada gejolak kecil antara keluarga kami. Saya heran, selalu saja ada persoalan terkait pelaksanaan hari H. Apa mungkin saat itu hati sedang tidak bersih, tidak dekat dengan Allah sehingga kami saling keliru mengartikan maksud lawan bicara kami…

Hari H pun terlewati. Saya menyadari betapa hari H hanya sebagai awalan yang bukan merupakan gambaran sesungguhnya mengenai pernikahan itu sendiri. Saya benar-benar memahami, kehidupan pernikahan, yakni setelah akad nikah dan selanjutnyalah yang justru harus dijadikan perhatian khusus. Sekali lagi,… kesiapan mental untuk menjalankan tanggung jawab! Betapa indahnya pernikahan yang dijalani dengan ilmu. Segala sesuatu akan terasa nikmat karena di dalamnya adalah ibadah dan banyak sekali cara mendulang pahala. Hal sederhana yang saya anggap remeh temeh ternyata begitu berarti di hadapan Allah. Menentramkan suami dengan cara yang disukainya adalah makna dari ‘baiti jannati’ yang sesungguhnya (kaum Adam sering sekali mengucap ini kan?). Ternyata baiti jannati itu bukan rumahnya, melainkan istri yang menentramkan. Ah, indahnya menjadi umat Nabi Muhammad SAW… Ya Rabbi, saya bersyukur pada-Mu!!! Mudah-mudahan saya istiqamah menjalankan peran-peran saya, dan selalu mencari ilmu setiap saat.

Sampai saat ini, tentu banyak sudah pahit manis yang saya rasakan dalam pernikahan. Namanya juga pernikahan… emoticon Bersyukurlah, semua yang terjadi dalam pernikahan adalah pelajaran berharga jika mau memaknainya sebagai pengabdian kepada Allah. Lakukanlah kewajiban kita, tunaikan hak pasangan dan anak-anak kita dengan hanya berharap kasih sayang Allah yang Maha Luas. Ya, perbaiki orientasi kita! Banyakin istighfar… Kalau kasih sayang Allah sudah dapat, nanti dapat bonus lainnya, soalnya kita manusia yang sering lupa dan banyak menuntut. Bersyukur, bersyukur, dan teruuuusss bersyukur…

Allah…hanya Allah sumber kebahagiaan sejati. Ya Rabbana, cintai saya…

 

Menemukan Trauma

Filed under: Kehidupan,Psikologi — by chandraniafastari @ 6:03 pm
Tags:

Temukan titik trauma itu..

Kenali, pahami, maafkan, selesaikan

Bukankan tidak mau terus-menerus terbebani?

Apakah ingin terus digelendoti?

Terapi? Ya, tentu perlu

Lakukanlah

Saat ini terapis sedang memberi waktu padanya untuk menemukan titik trauma tersebut

Ia memilih, memilah

Kadang ia malas mencarinya

Namun ia butuh penyelesaian

Sungguh, trauma tidak bisa kita sepelekan

Trauma adalah luka psikis

Tak terlihat tetapi terasa

Berapa banyak orang trauma yang tidak menyadari ketraumaannya?

Berapa dari mereka yang mampu berperilaku ‘biasa’?

Berapa yang merugikan orang? Berapa yang hanya merugikan diri sendiri?

Hei… penyebab trauma bisa benda, bisa manusia

Benda? OK lah, dia benda mati, yang perlu ditelusuri mungkin adalah situasi penyebabnya

Jika manusia? Mungkin manusia itu tak sengaja menyebabkanku trauma.. yang harus dipahami adalah motif manusia tsb saat melakukan hal yang membuat orang lain trauma

Kadang merasa seperti mengada-ada

Jika memang tak ada, mengapa bisa rapuh

Jika ada, mengapa sulit ditemukan

????

Itulah psikologis…

Mengerti? Seems complicated? Right!

On The Track to be a Great Counselor

Filed under: Psikologi — by chandraniafastari @ 6:00 pm
Tags: ,

Saya lagi maniak dengan kata-kata berikut ini… emoticon

Non posessive warmth

World view

Microskills

Active listening

Fascilitator

Yuk, tebar kebaikan sebanyak-banyaknya…

The Highest Sympathy to Rusty Yates & Andrea Kennedy

Filed under: Kasus Pernikahan,Keluarga,Psikologi — by chandraniafastari @ 5:33 pm
Tags: ,

Saya teringat, pernah membaca novel Luka Cinta Andrea (karya Suzanne O’Malley), cerita yang tersusun secara kronologis berdasarkan kisah nyata. Nyata, terjadi beberapa tahun silam, tahun 2001. Andrea yang kala itu masih berstatus istri Russel Yates dan tengah mengidap depresi berat dengan ciri-ciri psikotik, menenggelamkan kelima buah hatinya di bath tub yang terdapat di rumah mereka. Perasaan saya teraduk-aduk. Yang muncul adalah simpati, bukan empati saya. Makanya saya ga enak hati dan kepikiran melulu. Kasian…

Tahun 2005, Andrea diceraikan karena ia harus menjalani masa hukuman dan rehabilitasi seumur hidup, tidak mungkin mereka terus menjalankan rumah tangga dalam kondisi seperti itu. Rusty telah menikah lagi dengan Laura Arnold setahun setelahnya.

Saat mereka masih bersama, saya begitu kagum pada Rusty, kadang kesal. Saya memandang Andrea adalah pasien yang benar-benar membutuhkan perhatian dari sang suami secara tepat. Saya menilai Rusty kurang tepat dalam membaca kebutuhan istrinya. Tetapi sekali lagi, Andrea sakit, Rusty Yates hanya seorang lelaki biasa yang memandang kehidupan keluarganya dari kacamata orang normal, bukan ahli psikiatri, bukan psikolog klinis, sehingga ia mencoba memenuhi kebutuhan istrinya atas cara pandang orang biasa. Ia selalu mengusahakan yang terbaik untuk Andrea. Ia tulus mencintai istrinya yang sakit itu. Ia sempat memimpikan Andrea divonis tidak bersalah dan akan hidup berdua lagi, memiliki anak lagi… namun pada satu titik ia menyadari hal itu tidak mungkin… Andrea butuh perawatan yang tidak sederhana untuk penyakitnya. Rusty harus meneruskan kehidupannya. Andrea pun mengatakan bahwa ia ingin Rusty meneruskan hidupnya dengan baik… termasuk menikah lagi.

Saya melihat, hati Andrea hancur mengetahui lelaki yang dicintainya itu telah menikah kembali. Saat ini dia masih dalam perawatan dan pengawasan hukum. Ia bergelut dengan penyakitnya, dengan obat-obat penenang, dengan hukum,… dia sendirian, bersama waham-wahamnya yang rasional dalam irasionalitas, dunianya… kadang ketika ia sadar di bawah pengaruh obat, ia terluka lagi, menyadari kini ia benar-benar sendiri, tidak ada Rusty, tidak ada anak-anak, dan menyadari status jandanya.. ugh… walau dia psikotik, saya rasa, hatinya masih hidup, dan terluka..

Ah, saya tak karuan setelah membaca kasus ini… Banyak pelajaran yang saya dapat. Saya mengapresiasi karya ini setinggi-tingginya. Saya memahami, cinta berhak dimiliki siapapun, termasuk oleh seorang psikotik…

Lebih Peka, kemudian Bersyukurlah..

Filed under: Kehidupan — by chandraniafastari @ 10:48 am
Tags: ,

Siang ini panas sekali. Aku sedang menunggu kedatangan Aa bersama teman playgrupnya mengendarai mobil jemputan. Panasnya luar biasa untuk kota Bandung yang terkenal sejuk. Aku menunggu di atas mobil tempurku, di balik kemudi. Sambil BBM-an. Twitter-an, dan dengerin lagu. Lumayan menghibur di tengah menunggu si Aa-ku tercinta. Tetapi sesaat yang lalu ada seorang kakek tua yang mencuri perhatianku. Suara lagu dan konsentrasiku teralih kepada sang kakek yang melintas persis di sebelah kanan. Ia berhenti sebentar memperbaiki posisi barang-barang yang dipanggulnya. Kuperhatikan, ia sedang memanggul dua keranjang berisi pisang berwarna hijau kekuningan. Ia terus berjalan menjauhiku. Ia terlihat begitu kepayahan. Seorang penjual pisang keliling yang berusaha mengumpulkan kekuatan agar barang dagangannya terangkut. Ia yang begitu gigih berjuang saat terik matahari siang ini yang demikian menyengat, sungguh telah mencabik hatiku. Aku malu… Aku selalu mendapatkan apa-apa dengan mudah, rezeki berlimpah, tidak pernah kurang, dan tidak perlu kepayahan seperti kakek tadi. Allah, terima kasih telah menegurku dengan lembut.. Aku sungguh malu…terima kasih telah membuatku menyaksikan perjuangan sang kakek walau hanya sekian detik. Sekian detik yang begitu berharga.

Next Page »

Theme: Toni. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.