GET THE FULLY FUNCTIONING SELF

May 7, 2018

Aku dan Kamu; Bandung di Akhir Tahun

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 5:40 pm

Aku menunggu-nunggu kabar pernikahanmu. Aku ingin melihat bagaimana diri ini merespon peristiwa itu. Aku ingin melengkapi perjalananku menyaksikanmu bertumbuh bertumbuh menjadi lelaki dewasa yang semakin matang. Aku juga ingin kamu memiliki teman baik yang selalu memperhatikanmu lebih dari siapapun..yakni istrimu.

Sadar atau tidak, kedekatan antara aku dan kamu menjadikanmu sedikit-sedikit mencariku. Ada masalah meminta diskusi denganku. Dan efeknya tidak baik bagiku, juga bagimu. Sekuat apapun pertahanan hatiku dan hatimu, tetap saja tidak luput dari ancaman kekhilafan. Apalagi kita ini sudah saling mengenal begitu lama, jauh sebelum kita hijrah. Kondisi ini sebenarnya begitu dilematis. Menuntut kita untuk sama-sama tahu batasan saat berinteraksi. Dan saling meninggalkan jika terasa ada yang mulai berbeda.

Di awal 2013 kamu mengabariku. Kamu dikenalkan dengan seorang akhwat. Mayoritas kriteria yang ada pada akhwat tersebut disetujui oleh orang tuamu, dan cukup sesuai harapanmu. Kamu deskripsikan sehingga aku mendapatkam gambaran mengenai dia. Kamu menanyakan kepadaku mengenai kepribadian dia berdasarkan pertemuan pertama kalian.
Fokusku teralih pada keterangan tempat tinggalnya. Dia di Bandung.
Iya, Bandung. Diskusi demi diskusi virtual kita lakukan…untuk kamu. Aku harus objektif..dan aku senang aku bisa melakukannya.

Fix. Kamu akan menikahinya. Kamu katakan itu saat berada di rumahku di suatu weekend. Ceritanya kamu datang untuk perpisahan denganku yang sepekan lagi akan pindah ke sebuah kota di Jawa Timur. Seperti biasa kamu datang dengan teman kita. Saat teman kita shalat, kamu sampaikan padaku data tambahan mengenai calon istrimu itu. Seperti ada yang kamu resahkan. Kamu mulai mengganti topik pembicaraan kita. Menanyakan rencana perjalananku menuju tempat baru. Aku bilang aku akan mampir di kota tempat kita sekolah dulu. Spontan aku menyampaikan…bahwa aku berkeinginan mampir bertemu Mama Papamu. Sudah terlampau lama tidak bertemu beliau berdua…dan kamu mengizinkan aku mengunjunginya.
==============

Perjalanan hari pertama adalah menuju kota tempat sekolah kita untuk istirahat semalam saja. Kulihat sedikit berbeda kondisi infrastrukturnya jika dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Jalanan macet membuatku kurang menikmati suasana. Kami tiba di kota itu saat adzan Isya berkumandang. Kami makan malam, bersih diri, dan beristirahat. Aku menunggu datangnya pagi..untuk mengunjungi Mama Papamu yang sekarang tinggal berdua saja di rumah. Namun ingatan tentang “penolakan” Mamamu di waktu dulu tiba-tiba muncul. Membuatku gentar. Kukendalikan pikiranku. Menjaga niat dan berpikir positif. Kupejamkan mata hingga tiba waktu subuh.
==============

Aku pergi sendiri ke rumahmu. Ini pertama kalinya aku datang ke sana. Sudah 9 tahun tidak bertemu beliau berdua. Tidak sulit menemukan rumahmu. Kamu menjelaskan denahnya seminggu lalu di rumahku. Kutemukan rumah yang sesuai dengan ciri-ciri dalam penjelasanmu, dan semakin meyakinkan saat kupastikan nomor rumahnya. Gerbang dan pintu rumah itu terbuka. Kudengar suara itu. Suaramu. Bukankah seharusnya kamu di kota tempat kerjamu? Mengapa kamu ada di rumah ini? Kulihat ada kamu di bagian tengah rumah. Menghadap ke arah dalam sehingga yang tampak olehku adalah kamu sedang membelakangi pintu, yang di situ sedang ada aku mengetuk pintu dan mengucap salam.

“Assalamu’alaikum..kok kamu ada di sini sih?”
“Eh..wa’alaikumussalam..” kuperhatikan kamu begitu gugup. Aku jadi semakin rileks dan terhibur seperti biasa. “Udah kamu masuk sana. Aku kan mau ketemu Om sama Tante. Sana sana!” ucapku sambil mengisyaratkan dengan tengan agar kamu masuk. Mamamu keluar, aku salim dan cium pipi. “Silakan duduk Mbak…waduh saya minta maaf ya..saya akui saya yang terlalu naif. Saya pikir dulu kan masih sama-sama kuliah. Saya akui saya ini terlalu naif!”
Kepalaku terasa berdenyut-denyut mendengar beliau berkata begitu. Aku duduk di tempat yang dipersilakan. Sok tenang.

Aku tidak berani mengklarifikasi arah pernyataan beliau. Aku refleks menanggapi, “Gak pa pa, Tante. Habis gimana ya Tante. Kadang kita inginnya dengan siapa, tetapi nikahnya sama siapa. Saat itu saya tidak bisa menolak.. Tapi yang penting kan sampai sekarang masih hubungan baik-baik. Alhamdulillah..”
“Iya Mbak..saya mohon maaf..saya yang terlalu naif.”
Degup jantungku tidak beraturan. Yang ingin kulakukan saat itu adalah buka kamus dan mencari arti kata naif. Dan aku sangat yakin kamu ada di dalam situ. Mendengar semuanya.

Kucoba alihkan topik..aku tidak sanggup melanjutkan topik itu. “Si Om mana, Tante?” “Oh lagi tenis, sebentar biar ditelepon.” Mamamu menginstruksikanmu untuk menelepon Papamu. Saat Mamamu ke dalam, aku sendirian di ruangan itu. Terdengar samar suaramu tengah menelepon, “Pah, pulang. Ada ***(aku).”
Mamamu kembali ke ruangan itu. Kami bicara dan selang beberapa saat Papamu tiba. Papamu memanggilmu dan memintamu ikut bergabung. Aku tidak mau. Aku beri kamu kode untuk tetap di dalam. Lalu kamu bilang, “Udah sering ketemu dia, Pah. Baru aja minggu lalu.” Kamu masuk kembali ke dalam sana. Terus terang aku merasa bahagia bisa bersilaturrahim lagi dengan keluargamu walaupun suasana dan segalanya sudah banyak berubah. Aku lega..dan sangat mensyukuri semua itu.

Kusudahi kunjunganku. Aku mensyukuri semuanya. Sebentar lagi kamu menikah dengan akhwat Bandung itu, sementara aku meninggalkan Bandung seterusnya.
==============

Tuhan kita memang paling sempurna.

Dia mengatur kapan waktu yang paling baik untukmu menikahinya di Bandung…
Dan seakan menunggu saat Bandung sudah tidak ada aku lagi.
==============

Jawa Timur, Oktober 2013. Aku buka SMS yang barusan masuk. Dari kamu. Kamu bilang ada yang membuatmu ga sreg. Padahal pernikahanmu tidak sampai sebulan lagi. Aku tanyakan apa masalahmu. Jawabanmu begitu mengesalkan dan tidak semestinya. Aku tegur kamu. Kamu ngeyel. Aku maki kamu lalu aku bilang, “Dia shalihah kan? Kamu baru akan tahu bagaimana dia sebenarnya setelah kamu menikahinya!!!” Itu pesanku yang tidak kamu balas lagi.
Aku puas sudah melakukan yang seharusnya aku lakukan..meski sejujurnya aku mengkhawatirkanmu. Semoga kamu baik-baik saja kelak.
==============

November 2013. Gastritis Chronica Superficialis. Diagnosis tersebut ditegakkan dokter setelah memeriksaku dengan alat endoskopi. Alat untuk memotret organ lambung. Cara kerjanya dengan menggunakan semacam selang besar yang ujungnya terdapat kamera, dimasukkan melalui rongga mulut, kerongkongan, hingga ke lambung. Sudah 5 hari aku dirawat di rumah sakit. Ini kedua kalinya setelah akhir Oktober kemarin dirawat juga. Aku tidak tahu bagaimana bisa penyakit langgananku ini menjadi begitu parah sampai harus diberi perawatan ekstra. Keluhan yang tidak kunjung mereda membuat dokter melakukan pemeriksaan tambahan dengan endoskopi itu.
===========

Ini adalah hari pernikahanmu. Selang infus masih mengaliri cairan untuk dimasukkan melalui jarum yang sudah menancap di punggung tangan kiriku. Andai tidak sedang dirawatpun aku tidak mungkin hadir, karena saat itu belum waktunya libur anak sekolah. Aku lihat di recent updates BBM seseorang, terpasang foto sepasang pengantin sedang duduk bersebelahan. Pengantin pria sedang menandatangani buku nikah. Di sebelahnya, pengantin wanita sedang tertunduk sambil tersenyum.
Barakallah… datang juga hari ini.

Akhirnya kita menikah di Bandung, di akhir tahun…kamu dengannya tepat hari ini sementara aku dengannya sewindu yang lalu.
==============

Jangan pernah lisankan cintamu pada seseorang jika kamu belum atau tidak bisa menikahinya. Percayalah, saat kamu ucapkan, cinta itu akan rapuh dan raib sehilang-hilangnya. Dengan menyimpannya sebaik mungkin, cinta akan tetap sakral walaupun tidak bersama. Tetap indah, meski merepotkan karena tidak terhalalkan. Sebaliknya ucapkanlah cinta dalam pernikahan, niscaya ia akan mengakar sedalam-dalamnya, bertumbuh sebesar-besarnya.
-CF-
==============

Halaqoh di suatu pagi materinya tentang Surga. Surga itu berisi segala keindahan. Di Surga, manusia selalu tersenyum berseri-seri. Allah akan menjamu setiap penghuninya, memberikan apapun yang diminta dalam sekejap saja. Apabila Allah memberikan sesuatu yang itu-itu saja, manusia Surga selalu bersyukur, selalu menyambut dengan riang gembira. Di Surga, tidak ada kebosanan. Di Surga pun tidak ada perasaan-perasaan dan emosi negatif dan merepotkan. Semacam cemburu, marah, dengki, takut kehilangan, cinta merepotkan, dan sejenisnya. Betapa merindunya ketika mengkaji tentang Surga, negeri akhirat yang insyaaAllah akan jadi tempat kita semua kembali. Allahumma aaamiiin.

Demikian pula mengenai segala rasaku padamu.
Ini hanya rasa di dunia yang akan lenyap di sana kelak.
Konsep Iman kepada Qada dan Qadar mampu melapangkan hati ini.
Kuterima semua ketentuanMu.
Dan kukembalikan semua rasa ini kepadaMu, pemiliknya.
==============

Akankah di surga kita bertegur sapa, mengucapkan salam lalu berbincang, menertawakan cinta yang tidak ditakdirkan bersatu di dunia?
Di sana tidak ada rasa cemburu, ‘kan?
Tidak akan ada kepedihan saat melihat siapa yang berada di samping kita masing-masing?
Di sanalah akan benar-benar terwujud sebuah kalimat indah yang begitu berat untuk dilakukan di dunia:
“Bahagia melihatmu bahagia” atau “Bahagiamu, bahagiaku juga”

—oOo—

Advertisements

Aku dan Kamu: Bersaudara Selamanya

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 5:33 pm

AKU DAN KAMU: BERSAUDARA SELAMANYA

Juli 2007. Kembali ke Bandung membawa ijazah S1, membawa bayi laki-laki berusia 4 bulan. Pulang ke Bandungku, tempatku berjuang memasuki gerbang cita-citaku.
Cita-cita masih harus dikejar tak peduli apapun. Tahun depan aku akan mendaftarkan diri di program magister profesi. Harus. Aku akan melanjutkan sekolah di Bandung. Kota tempatku melarikan diri. Kota yang aman untuk hatiku. Jauh dari segala kenangan tentangmu yang entah di mana kini. Semua berjalan sesuai perkiraan sampai akhirnya pada suatu siang aku menerima email darimu.
“Gmn kabarmu? Kamu sudah punya anak? Aku sekarang di Bandung. Kamu masih di Surabaya?”
Regards,
Kamu
081xxxxxxxxx
Refleks aku tinggalkan laptop yang masih terhubung dengan internet itu. Kucari hp kemudian memasukkan nomor hp yang tertera di email tadi.

“Ini aku, barusan aku baca emailmu. Alhamdulillah aku baik. Kamu juga baik ya.. Aku juga di Bdg, anakku cowok umur 6 bulan. Kamu di Bdg sejak kapan? Kerja atau gimana?”

Kukirimkan text padamu.
Ternyata Bandung bisa tidak seaman yang aku pikirkan.
“Aku sudah 3 bulanan di sini. Aku kerja di perusahaan Korea. Di jalan S*m**j* no.xx., kost dekat situ juga. Kamu kerja? Rumahmu yang bareng kakekmu itu? Yang waktu itu aku ikut kesana?”

Kamu di situ? Lokasimu dekat dengan tempat Mamaku beli sprei. Aku sering kesana menemani Mama. Dan aku cukup hafal daerah situ.

Kubalas lagi. Berbalas. Lagi dan lagi.
Aku lunglai. Aku harus pergi kemana lagi?
Kita tidak berkomunikasi lagi.
Ini sungguh sulit dimengerti. Tuhanku..beritahu aku apa maksud semua ini? Aku tidak siap.
Dengan tersambungnya kembali pertemanan ini, berarti aku tidak sanggu membayangkan jika nanti kamu menikah, aku harus hadir seperti kamu menghadiri pernikahanku?
Aku tidak sekuat itu…
==============

Oktober 2008. Aku mahasiswa magister profesi. Sedang stres berat beradaptasi dengan iklim akademik yang baru. Jadwal padat 6 hari seminggu. Materi dosen disajikan dalam Bahasa Inggris, bahkan Bahasa Jerman. Oh Tuhan..beginikah yang namanya perjuangan? Pekan depan sudah mulai latihan praktikum tes inteligensi. Semua mahasiswa diwajibkan membawa klien dari luar. Aku mencari-cari. Alhamdulillah… tidak mudah aku mendapatkannya.
Telefonku berbunyi. Testee untuk latihan praktikum membatalkan kesediaannya. Aku panik..aku hubungi teman-temanku. Sampai malam itu, aku belum dapat pengganti. Padahal lusa sudah tiba waktunya. Aku berpikir mengajak kakakku atau adikku…tetapi mereka tidak bisa.
Aku teringat…kamu….Kamu yang selalu mau menolongku. Kamu yang dulu datang setiap aku kali aku minta. Yang selalu tidak pernah berkata tidak jika aku perlu. Tidak butuh waktu lama, aku mendapat kepastian. Kamu mau jadi testeeku. Kamu bilang akan ambil cuti 1 hari. Untuk membantuku. Aku tidak percaya apa yang sudah aku lakukan.

Besok latihan praktikum. Duh…ini namanya bikin ulah. Seperti apakah kamu sekarang? Perjumpaan terakhir kita adalah 3 tahun lalu. Di Bandung juga. Di resepsi pernikahanku. Tidak…, aku tidak mau kita bicara itu lagi. Fokus…fokus ke depan. Aku sudah menikah. Kita berteman seperti biasa. Seperti biasa…?

Hari latihan praktikum. Sudah pukul 8 pagi. Kamu belum datang-datang. Aku mulai resah. Kulihat teman lain sudah ada yang memulai latihan di ruangan masing-masing. Aku tertawa, ada temanku yang menjadikan calon suaminya sebagai testee…cerdik sekali dia, bisa mengenali lebih dalam. Dan aku jadi miris..aku akan berlatih memeriksa mantan calon suami idaman.

“Teh, ada yang nyari tuh! Di parkiran motor!” Sekujur tubuhku terasa dingin dan kaku. Fiuhh…aku berjalan cepat. Kulihat di koridor kamu berjalan dan kita berhenti di suatu titik. Oh tidak. Senyum itu…
“Ngawur kamu. Aku muter-muter dari tadi. Ga nemu kampus ini. Kamu salah ngasi nomornya.” Aku ketawa ngakak mendengar omelannya. Omelan yang tidak berubah. Masih selucu jaman dulu. Aku jadi tidak terlalu nervous. Aku mengajaknya mengikuti langkahku. Aku tidak berhasil untuk tetap berada di sedikit di depanmu. Langkahmu panjang sekali sehingga tanpa kita sengaja, langkah kita sejajar. Kita memasuki ruang latihan praktikum. Kita malah mengobrol dulu, sampai aku menyadari..waktu semakin siang dan aku harus segera mulai pemeriksaan.

Aku harus profesional. Sejujurnya aku menahan tawa berkali-kali melihat tingkahmu saat aku sajikan tes inteligensi. Aku seperti sedang menonton parodi yang begitu menghibur. Semua orang juga sepakat. Kejenakaanmu itu sangat alami. Tes berakhir dengan memakan waktu sekita 2 jam. Kamu tidak langsung beranjak pergi. Kamu jalan-jalan keliling kampus. Aku tetap di ruangan itu, kupersilakan kamu keliling sendiri. Sambil menuntaskan administrasi, rasa nervousku muncul lagi. Aku tenangkan diri sebisaku.

“Kampusmu unik ya?”
“Ini dulu asrama putri. Dijadikan kampus.”
“Oo pantesan kayak bukan kampus”
“Iya. Aku sambi skoring ya.”
“Eh gimana hasilku?” Kamu mendekat ke arah kertas di atas meja yang memisahkan kita.
“Aku bahas dulu sama dosen ya, nanti kukasitau. Aku masih disupervisi, belum boleh menyampaikan sebelum bimbingan.”
“Oh.. ya. Tadi jawabanku bener ga?” Bla..bla. bla..
Kamu cerita tentang bosmu yang orang Korea. Cerita tentang suasana di pekerjaanmu. Banyak sekali ceritamu. Aku tetap menekuni hasil tesmu itu. Sampai akhirnya kamu melihat jam yang melingkati pergelangan tangan kirimu.
“Apa aku sudah boleh pergi?”
“Boleh, kok.”
Aku temani kamu sampai ke parkiran motor. Kamu menanyakan di mana rumahku. Aku jelaskan rute menuju rumahku yang tidak jauh dari kampus itu. Ah kamu. Begitulah kamu. Selalu menunggu aku bolehkan dulu baru kemudian mau pergi.

Aku baru sadar. Sekian lama mengobrol denganmu tadi sama sekali tidak membahas tentang statusmu yang belum menikah. Pembahasan yang sangat aku takutkan namun harus aku hadapi suatu hari nanti. Aku urung menanyakannya. Aku cukupkan. Tidak menghubunginya lagi. Setelah itu, beberapa kali kamu berkunjung ke rumah orang tuaku, selalu bersama teman kita. Kamu bertemu orang tuaku, saudara kandungku, dan kalau beruntung bertemu suamiku jika kebetulan sedang pulang. Kamu juga memeluk dan menciumi anakku, bermain bola bersama anakku. Aku tidak menghiraukan perasaan-perasaan yang muncul di saat itu. Sudah tidak bisa lagi.
==============

Maret 2010. Malam itu kamu datang. Sendiri. Kamu datang dari sebuah kota yang berjarak 2 jam dari Bandung. Kamu sudah pindah kesana. CPNS. Mamaku menyapamu. “Mas, apa kabar? Ayo dong kapan nikah? Itu udah hamil anak kedua tuh,” seraya menunjukku yang duduk di salah satu sofa yang berjarak 2.5 meter dari sofamu. Pertanyaan Mamaku terlalh mainstream. Kamu menanggapi dengan tawa sembari menyalami Mamaku. Malam itu kau banyak diam. Aku merasakan ada sesuatu yang begitu membebanimu. Aku menunggumu bicara. Akhirnya kamu buka suara.

“Aku merasa tidak nyaman setiap kali pulang ke rumah di kota itu. Orang tuaku terus mendesakku menikah. Mereka bilang aku ini nunggu apa. Sudah seharusnya menikah.”
Sikap tubuh dan pandanganmu mengarah ke televisi besar yang berada di ruangan. Aku yakin kamu tidak sedang menikmati tayangan kartun Dibo The Gift Dragon itu. Aku tahu betul, kamu sedang dalam situasi tertekan. Aku tenangkan diri. Nafasku seakan berhenti.

Selama 12 tahun menjadi sahabatmu, baru malam itu aku melihatmu begitu pendiam. Sebagai sahabat, aku coba mulai bertanya. “Calonmu sudah ada?”
Kamu melihat ke arahku, kemudian menggeleng pelan dan memalingkan pandangan ke arah lain, menghela nafas panjang.
“Dengan siapa. Aku belum tahu.”
Kau tahu. Aku inginnya pergi dari situ. Aku iba. Sekaligus lega. Aku jahat, ya? Aku memang terlalu takut untuk membayangkan siapa yang akan berada sisimu kelak? Posisi yang begitu aku dambakan di masa yang lalu.
=============

Enam bulan kemudian. Sehabis Lebaran, kamu datang lagi ke rumah orangtuaku. Kamu ditemani orang yang tidak aku kenal. Kamu mau menengok bayi perempuanku yang berusia 3 bulan. Itu terakhir kalinya kamu datang.
Suatu hari kamu mengirim pesan melalui jejaring sosial. Isinya tentang calon istri. Kamu memintaku membantu. Aku agak berani bertanya lebih banyak. Setidaknya kamu tidak akan mengetahuk reaksiku jika berkomunikasi melalui medsos. “Boleh aku tahu kriteria istri yang kamu cari?”
Esoknya kamu membalas. Kamu ingin istri orang Jawa, profesi guru/dosen, usia setara atau lebih tua/muda sedikit, pendidikan S1. Dan berkulit cerah. Baiklah…
Di bawahnya kamu jelaskan bahwa *orang Jawa* adalah permintaan orangtuamu. Untuk kulit cerah maksudnya adalah putih.

Aku akan membantumu. Sebisaku. Aku sungguh-sungguh membantunya. Kuhubungi salah seorang akhwat lulusan SMA kita yang juga belum menikah. Aku dekati akhwat itu dan kusampaikan maksudmu. Tetapi kamu menghilang lagi..akhirnya si akhwat menikah dengan orang lain.
Sepertinya jalan jodohmu bukan melalui sahabatmu ini.

“Kamu butuh wanita seperti apa untuk mendampingimu? Coba sebutkan kebutuhanmu apa…dari situ kita buat kriteria,” kukirim pesanku melalui medsos. Kamu hanya membaca. Tidak merespon sama sekali.
Apa sih yang sedang mengganggu pikiranmu?
==============

Sahabat perempuanku yang tinggal di Jakarta menyapaku di medsos pada suatu sore. Sahabat yang sudah khatam tentang diriku. Dan kisah-kisahku denganmu. Sahabat perempuanku bilang, kamu menghubunginya, menanyakan apakah sahabat perempuanku kenal dengan seorang adik kelas di SMA kita. Kamu tidak bilang tujuanmu apa, hanya menanyakan perihal seseorang itu. Aku berterima kasih pada sahabat perempuanku. Aku langsung menyimpulkan, itulah calon istrimu. Sore itu juga aku SMS kamu. “Kabarmu baik kan? Ada kabar terbaru tentang calon istri?”
“Alhamdulillah. Baik. Saya sudah kenalan. InsyaaAllah beberapa minggu ke depan akan ada lamaran.”
“Ok. Kalau sudah ada tanggal, kabarin ya. Let me be the first to know” “Iya. Insya Allah”
Aku cari nama itu di FB. Ya, dia junior kita. Manis. Berkerudung panjang. Kuperhatikan fotonya. Kita tidak pernah bertemu di sekolah karena selisih 3 tahun. Aku lihat di personal infonya, dia adalah seorang Sarjana Psikologi. Kuceritakan hal ini pada kakakku dan istrinya. Aku sadar saat itu sangat lepas kontrol. Aku tidak berhasik membendung air mata. Kakak-kakakku bingung melihatku seekstrim itu.
*Hei kamu, sebenarnya kamu bisa mendapatkan Psikolog, tidak hanya sekedar Sarjana Psikologi!* Batinku
==============

Masya Allah, baca all message history kita di sini, udah lama juga, over a year ago.. It was about your journey–looking for someone, tapi sekarang kamu finally find someone to be your wife. Lucky her!

Time is quickly passing ya?

Hi hi…tiba-tiba ingin nulis setelah buka messages. Let me write about u here… Biarin aku mengenangmu dengan sempurna, boleh ya?

Setelah aku dengar kamu akan menikah, aku mengirim pesan melalui salah satu sosmedku.
Aku merasa perlu melakukannya.
Aku melanjutkan menuliskan pesan yang hendak kusampaikan padamu….

Ummm..known you a long time. First, I hear about you as a kind person, prestasi akademik istimewa, orang Jawa, tinggi, dan lucu. Hahahaa…
Kemudian berinteraksi denganmu and I knew all I heard about you is totally true, yahh…baik, pinter, alim, motivasinya tinggi, pembelajar, berambisi, kocak, ga enakan, hihihii..that’s you are. Ga nyangka bakal masih berhubungan baik denganmu sampai hari ini. Saking lamanya kenal, sampai aku bisa liat perubahan-perubahan dalam diri kamu, yang semakin menuju arah positif..

Lucky me–see your ‘metamorphosis’ in some years from teenager til now; a mature man. Amazing!
Thank’s for being my close friend, for come to me–keeping silaturrahim with me and my family, for trusting me to help your problem(s). Makasih ya, karena kamu selalu ada. I still clearly remember the moments waktu kamu anter aku pulang dengan motormu. Lalu kamu selalu hadir di momen-momen pentingku, kayaknya dari dulu sampai sekarang kamu ngga berubah deh–selalu baik, bersih, peduli dan profesional hihiii *kidding*. I was so glad when we talk together in hours, lucu ya, and I can’t remember what we talked about..seru aja rasanya. Ahahahaaa..I never be able to explain, but u’r an unique person who filled my days since 14 years ago huaaa…
Ohya..this is important.. I’m really so sorry for all my mistakes, dulu mungkin membuatmu tidak nyaman, sorry for my complicated behavior. Arghh…I was ababil–abg labil, aduh maluuuuu! *tutup muka*

Pokoknya sih, all those things are soooo incridibly. Let me keep you as my best memory, such a best part of my life. *nanti akan kuceritakan pada anak-cucuku* hihii

Yah, bagi aku kamu udah baik banget…, nice to know u in this life, thank’s a billion I dedicate to you…
With my sincere appreciation,

Aku

NB: Semoga segala hal yang terkait dengan pernikahanmu berjalan lancar, mudah, dan berkah. I”ll always pray for your happiness. Ketika kamu bahagia, aku turut berbahagia, Insya Allah… Kabarin aku, ya?

Balasan kamu:
Thank you atas atensinya…
banyak banget tulisannya, ya dimaklumi kan lulusan S2 gitu loh
saya lama nulisnya, masih butuh waktu lama untuk menguraikan apa yang ada di pikiran
so surprising, setelah tahu ternyata mendapatkan penilaian kriteria yang baik, berarti sedikit ya kriteria yang jeleknya…(atau belum disebutin kali hehe )
saya menganggap anti adalah salah satu teman yang tahu siapa saya, sudah kenal saya dari semenjak sekolah
Dan anti juga ikut tarbiyah. dalam masalah-masalah yang cukup pribadi, latar belakang saya (keluarga, pendidikan) dan tarbiyah (dalam hal ini mungkin disebut “pemikiran islami”) sedikit banyak mempengaruhi sikap dan cara saya memutuskan sesuatu. jadi ya aku percaya untuk “sharing problem” ke kamu, syukurnya kita masih komunikasi dgn baik (kupikir rekan yg bisa kuajak ngobrol mengenai terkait dua hal tersebut terbatas dan komunikasi kurang lancar-mgkn krn kesibukan masing2), ditambah lagi kamu adalah seorang psikolog.
Aku juga berterimakasih atas waktu dan segala macam hal yang telah diberikan dari seorang friendly person yang pastinya punya banyak teman dan saya hanyalah salah satunya,saya berterimakasih dan salut buat kamu masih bisa membuka komunikasi dgn orang yg jaraknya jauh, terus terang saya agak kesulitan menjaga komunikasi dgn orang yg tidak di depan “mata” saya, krn saya sendiri “merasa” disibukkan dgn apa yg ada di depan “mata”(semoga tidak berlebihan). kalo waktuku leluasa dan lagi mood pasti ku-poke (pake istilah facebook), asal ada bahan.
Yg pasti aku tidak luput dari kekurangan, dan saya minta maaf kalo tidak berkenan buat kamu. saya masih inget terakhir waktu saya minta kamu mencarikan akhwat dan kemudian aku gak jadi. bukan berarti aku gak percaya kamu, tapi aku pikir kaya’nya belum cukup (atau mungkin sy terlalu cepat memutuskan padahal belum banyak hal sy tanyakan). emang saya akui ego saya masih tinggi di beberapa hal
Terakhir tapi bukan yang paling akhir, berhubung saya bukan ahli bahasa, saya minta maaf kalo menggunakan kata yang kurang tepat sehingga menyinggung hati selama berkomunikasi dgnmu.

buat saya, kamu adalah xxxx xxxx xxxx xxxxxxx xxxxxxx xx xxxxxx xxxx (SENSOR YA..UNTUKKU SAJA)
jujur sebenarnya saya takut menggunakan kata tersebut krn khawatir tidak bisa melaksanakan konsekuensinya, hihi …but i’ll keep trying.
semoga silaturahim terus terjaga
with sincere appreciation too,
thank you for your pray to me
nice to read your simple and interesting book (next time i hope can discuss about the book)

Kamu

NB:saya doakan kamu bisa sukses membangun keluarga,menjadi istri dan anak yang solihah dan jikalau hendak berkarir semoga kesuksesan menyertai. Amiin
==============

Tak perlu kau jadi ahli bahasa untuk sekedar mengutarakan isi hatimu. Jadilah seperti apapun adanya kamu.
Mungkin pertemuan-pertemuan kita memang dirancangNya dalam rangka membersihkan segala prasangka. Mungkin kisah kita yang melegenda ini akan cukup layak menjadi sebuah pelajaran. Tentang kesungguhan, tentang kehati-hatian, dan keikhlasan.
==============

“Aku belum jadi menikah. Ada beberapa hal yang membuat ortuku keberatan.”
Kamu mengirim pesan itu di suatu siang.
“Mudah-mudahan kamu segera bertemu jodohmu. Aku do’akan dari sini”
==============

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisimu menghadapi situasi ini. Aku ingin banyak mendengarkan ceritamu…namun itu bukan hal yang tepat..bukan hal yang baik..dan bukan yang kamu butuhkan. Kamu butuh dido’akan. Dan aku akan mendo’akanmu tanpa diminta..tanpa kamu tahu.

—oOo—

Terima kasih, Mama

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 8:46 am

Mama.. 58 tahun usia Mama hari ini. Semoga Mama selalu dalam kebaikan. Barakallahu fii umrik.. semoga selamat di dunia dan akhirat. Aaamiin..

Sudah 37 tahun Mama menjadi seorang istri..dan aku baru mau 13 tahun.. 35 tahun Mama menjadi seorang ibu..sementara aku baru 11 tahun..11 tahun pula Mama menjadi seorang Nenek. Menjadi seorang Ibu itu berat ya, Mah..tapi lebih banyak senengnya. Jadi ibu-ibu itu ngasuh anak-anaknya dari kecil..apalagi anak perempuan..diasuh baik-baik sampai dewasa, tahu-tahu suatu hari dibawa pergi suaminya..meninggalkan lautan kasih sayang yang abadi.

Jangan coba tanyakan rindu. Keberadaan jeda sekian detik saja, aku selalu merindu. Untuk melepas rindu tidak lagi semudah dahulu…hanya bisa kutahan dan mengabaikan rasa rindu itu dengan menyibukkan diri. Tetapi sungguh..rindu tidak pernah beranjak dari setiap helaan nafas ini.

Mah..aku yang selalu paling jauh berjarak dan aku yang selalu nekat mencari celah untuk menemuimu, Mah. Aku sudah terlanjur menyatakan diri sebagai pejuang sepertimu. Aku tidak akan menyerah dengan rasa rindu maupun keadaan. Dan aku juga yang sama denganmu dalam hal-hal tertentu..sama-sama menikah di usia 21 tahun. Sama-sama punya penyakit lambung, dan sama-sama paling bisa terlihat kuat.

Karena aku dipercaya, aku menjadi mampu. Karena aku diberi kesempatan, aku jadi berani memutuskan. Kini aku tahu sebagai Ibu tidaklah mudah memberi kesempatan dan kepercayaan pada anaknya. Namun aku akan melakukannya pada cucu-cucu Mama. Hal yg paling memuaskan adalah ketika aku tidak salah memutuskan apapun dan baru disadari bertahun kemudian. Ketika dibebaskan dengan sepenuhnya bertanggung jawab atas keputusan itu, dan membuktikan kemampuanku.

Aku sadar aku bukan anak yang baik. Aku si judes..yang selalu merepotkan..semoga aku selalu dimaafkan ya Mah.. Apalah yang kuketahui tentang cinta…yang kutahu, aku belajar cinta darimu. Perasaan yang sangat menyiksa adalah merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan. Segala yang Mama beri dan tampilkan telah mampu membuatku terbebas dari rasa itu. Betapa baiknya Allah membuatku menjadi anakmu. Semoga Allah perkenankan aku menjadi salah satu penyebab yg membuatmu jadi penghuni SurgaNya ❤ Terima kasih, Mama…IMG_20180507_084234_982.jpg

May 1, 2018

Aku dan Kamu: Bertemu Kembali

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 10:40 am

Setengah bulan sudah kujalani bimbel persiapan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Bandung. Berangkat pagi, pulang sore hari, 6 hari sepekan. Lelah tetapi tidak menggoyahkan tekadku. Aku ingin sekali diterima sebagai mahasiswi di sebuah kampus di fakultas yang sudah kuimpikan sejak kelas 6 SD. Aku melihat kalender di ruang tengah rumah Mbahku, menghitung sisa waktu tersisa sebelum tiba waktu SPMB. Fiuhh..tidak lama lagi… Kulihat ada lingkaran di salah satu tanggal, di sampingnya ada tulisan “Cap 3 jari j 8.00” Baiklah, aku harus kembali ke sekolah…3 hari lagi.
Demi memenuhi kewajiban tanda tangan ijazah dan cap 3 jari, aku kembali ke kota itu ditemani Mama. Kangen juga aku dengan teman-temanku..tidak sabar berkumpul lagi di kelas setelah berpisah 2 mingguan. Pagi itu aku berada di sekolah berjalan memasuki ruang kelasku yang sudah dipenuhi teman-teman. Aku meminta izin kepada wali kelas untuk didahulukan melakukan tanda tangan dan cap 3 jari karena jam 10 aku harus berangkat kembali ke Bandung. Wali kelasku sebenarnya keberatan, tetapi beliau mengizinkan. Setelah itu aku pamitan ke teman-teman. Tetapi kamu belum datang. Aku tidak mau bertanya. Aku langsung pulang. Sudahlah…cukup sudah.

Kubelokkan motorku ke kanan, keluar gerbang sekolah yang entah kapan akan kumasuki lagi dan akan selalu aku rindukan. Tunggu… Duh.. apa-apaan ini? Mengapa di situ ada seseorang berseragam putih-abu sedang berdiri hendak menyeberang menuju sekolah…menengok ke arah yang berlainan dengan jalan pulangku. Aku biarkan motorku tetap melaju. Aku yakin betul kamu tidak menyadari keberadaanku. Tidak, aku tidak akan berhenti. Aku belum mau bertemu denganmu lagi meski aku tahu kamu sudah putus dengan gadis cantik peminjam mukena itu sebelum kita lulus sekolah. Sudah..aku tidak mau berbalik arah untuk sekedar menyapamu.

Aku mengingat-ingat kata salah seorang sahabat perempuanku. Dia bilang, kamu putus dengan gadis itu. Putus baik-baik katanya, biar fokus belajar. Ketika mendengar kabar tersebut, aku tidak merespon sama sekali. Tidak bahagia. Tidak kaget. Tidak juga berharap apa-apa. Hanya ada rasa syukur…karena kamu sudah kembali, single, seperti 6 bulan sebelumnya. Ah, masih kuingat saat menyaksikan mereka asyik mengobrol suatu sore di beranda tempat les. Buru-buru kualihkan ingatanku. Jangan biarkan ingatan itu menyiksa..lepaskanlah..ikhlaskanlah.

Mama, Om, dan Tante sudah siap berangkat saat aku tiba di rumah. Aku bersiap..mengemasi beberapa barang yang tersisa. “Kenapa cemberut sih?” tanya Mama. “Gapapa Mah…”
Tidak lama kemudian, Mamaku bersuara, “Wa’alaikumussalam…eh Mas..ayo masuk..eh tapi kursinya udah ga ada!” “Gapapa Tante, di sini aja,” sahutmu. Mama masuk…cuma senyum-senyum…mengisyaratkan aku untuk menemui tamu si tamu…kamu dan teman kita. Hei kamu, aku mau berangkat. Kenapa kamu membuatku menunda keberangkatan yang telah aku jadwalkan. Aku kan belum mau bertemu denganmu..

Aku menuju teras rumah menemuimu…kamu datang dengan seorang teman sekelas kita. Rentetan tanya berkecamuk dalam pikiranku. Bukankah tadi di kelas begitu ramai? Antrian panjang? Apa kamu juga minta didahulukan tanda tangan dan cap 3 jari agar bisa menyusulku? Aku yakin sekali kamu tidak lihat aku saat pulang tadi. Siapa yang menyuruhmu menemuiku? Kamu disuruh ‘kan? Disuruh wali kelas? Teman-teman? Bukan inisiatifmu kan? Betul kan? Tidak pernah kubolehkan sama sekali perasaan diistimewakan muncul kembali. Tidak akan pernah.

Aku tidak ingat apa saja yang kita bicarakan pagi itu. Aku hanya ingat semua terasa berbeda. Terima kasih aku sampaikan saat itu. Kamu sudah menyempatkan datang sebelum kita berpisah lagi. Kamu meminjam motor salah satu teman dan helm teman lainnya. Sampai pemilik helm protes melalui telepon rumahku, memintamu segera kembali ke sekolah. Terima kasih sekali lagi. Aku tidak mempedulikan lagi perang abadi dalam diriku…antara mengenang atau melupakan..kudapati kesibukan luar biasa logikaku melawan perasaan-perasaan yang akhirnya membunuh dirinya sendiri.
===============

Banyak hal yang sangat personal yang mendorong seseorang tertarik pada satu tipe lawan jenis favoritnya. Bisa dalam hal fisik atau karakter. Maka jangan pernah pertanyakan mengapa seseorang hanya bisa takluk pada orang dengan karakter tertentu atau ciri fisik tertentu. Misalnya, pintar, polos, lugu, tinggi, dan berkulit eksotis (baca: hitam) Itu adalah selera, jangan tanya mengapa. Mendebatnya sampai pikun pun tidak akan selesai. Membahasnya pun hanya membuang waktu.
=============

SPMB terlewati. Berjuta harap dan do’a kulangitkan setiap saat. Aku ingin lulus. Menunggu pengumuman kelulusan terasa begitu lama. Padahal hanya sebulan. Kira-kira 20 hari sebelum pengumuman, ada SMS masuk. Dari teman sekelas yang bimbel dan ngekos di kota yang sama denganmu. Ia mengabari bahwa kamu lulus PMDK di salah satu PTN dekat Jakarta. Sejauh yang kupahami, sebenarnya kamu tidak berminat pada PMDK itu. Wali kelas kita yang mengatur semuanya. Aku sudah pernah bilang padamu, hati-hati..kamu sangat mungkin diterima. Nilaimu terlalu istimewa untuk ditolak PTN itu. Benar saja. Kamu diterima…lalu bagaimana dengan cita-cita yang pernah kamu sampaikan padaku?
Sahabat yang baik harus mendukung sahabatnya. Kutelepon kamu. Ah, suara itu…
“Kamu baik-baik aja?” “Ya…alhamdulillah”
“Kapan berangkat?”
“Nanti siang,”
“Selamat ya. Jurusan apa sih?”
“Belum tau”
“Semua ilmu ada gunanya. Dimana aja pokoknya dapat ilmu.”
“Ya…makasih”
“Ya dah. Hati-hati ya” kuhela nafas panjang. Pikiranku menari-nari.
=============

Namaku tercantum di koran bersama 80ribuan nama peserta yang lulus SPMB. Aku lulus pilihan kedua. Yah, indah sekali ketentuanMu. Ratusan kilometer membentangkan jarak antara aku dan kamu, Jawa Timur dan Jawa Barat. Mungkinkah ini supaya aku tidak berjumpa denganmu lagi? Ada gerimis di hatiku.
Di manakah dirimu berada sekarang…aku mau cerita..aku lulus..aku memasuki gerbang cita-cita yang kurencanakan..lihat aku…
=============

Setahun kemudian aku dan Mama berkunjung ke kota tempat aku sekolah dulu. Kami tiba sore hari. Sesudah masuk penginapan, aku pamit ke Mama untuk pergi ke sekolah naik becak. Aku sangat menikmati suasana kota itu. Tanpa terasa aku sudah sampai di sekolah..tepat di saat maghrib. Aku menuju mushalla sekolah yang juga menjadi saksi sejuta cerita. Shalat di sana dan baru keluar saat langit semakin gelap. Aku pakai sepatuku meninggalkan mushalla. Oh tidak…aku menangkap siluet tubuh yang begitu familiar. Semakin nyata mendekatiku, menyapa dan menjejeri langkahku.
“Hey, kamu ke sini? Sama siapa? Nginap di mana?”
Kita terus bicara sambil jalan menuju teman-teman yang sedang duduk di kursi di bawah pohon, dekat gerbang sekolah. Tidak kusangka banyak teman-teman yang main ke sekolah. Gembira hati ini. Saling cerita. Diam-diam kuperhatikan penampilanmu yang semakin rapi. Wajahmu ga jerawatan lagi. Jenggot tipis menghiasi dagumu. Astaghfirullah…kenapa aku memperhatikan sedetail itu.

Kami bersebelas masuk ke dalam sekolah. Datang ke deretan ruang kelas 2 yang kami pernah tempati. Di tengah keasyikan itu kamu bertanya, “Tadi kamu naik apa ke sini?” “Becak.” Deg…aku sungguh takut mendengar apa katamu selanjutnya. Aku langsung pergi menghindar menuju ke kelas sebelah. Kelasku dulu, sebelah kelasmu.

Acara keliling ruangan kelas berakhir kemudian kita semua kembali ke kursi di bawah pohon dekat gerbang tadi. Sudah jam 7 malam. Aku berniat pulang, mulai berdiri dan berpamitan.
“Kamu naik apa?” tanyamu kembali. “Gampanglah nanti…ada angkot atau naik becak tuh.”
“Aku anter. Tunggu sini, kuambil motor dulu.” kamu bergegas pulang ke rumahmu yang memang tidak jauh dari situ.

Aduhhhhh… Teman-teman yang ada di situ meledek dan memintaku untuk tidak menolak. Aku mengusap wajahku. Konflik begitu besar dalam hati ini. Kamu datang mengendarai motor yang masih sama dengan waktu sekolah. Aku masih diam saja. “Sudah malam. Naik” tukasmu. Oh Tuhan…bolehkah (boncengan) sekali ini saja..maafkan hamba…

Aku berharap jalan yang kami lalui bisa memanjang berkali lipat. Tentu saja mengobrol di atas motor terjadi lagi, sama serunya dengan waktu dulu. Aku tidak mampu menjelaskan rasaku saat itu.

Akhirnya sampai di tempatku menginap. “Makasih ya…” ucapku lirih. “Ya.. eh tunggu ya..aku nanti kesini lagi, jemput teman dulu.” Aku mengangguk dan berkata “Kamu hati2.” Kamu balas mengangguk dan pergi. Kamu sering mengajak teman jika menemuiku. Hanya beberapa kali saja datang sendiri, selebihnya pasti ada teman. Aku merasa gemas. Oh Tuhan…maafkan aku..

Malam itu, di lobi penginapan, kita menghabiskan beberapa jam untuk mengobrol..sebelum esoknya kita terpisah jarak lagi.
Sungguh tidak mudah kupercaya bisa bertemu denganmu lagi dalam suasana yang jauh lebih baik. Aku menyesali berboncengan denganmu itu. Tetapi aku akui..terlalu sayanh untuk dilewatkan (maafkan…)
Aku berjanji tidak akan boncengan lagi sampai halal. Itu adalah boncengan terakhir kali. Dan ternyata benar-benar tidak pernah lagi. Itu terakhir kali… tidak pernah ada lagi selamanya.
===============

Ibukota Jawa Timur. Panasnya kota tempat kuliahku itu sungguh tidak biasa. Kurang asupan cairan sedikit saja akan membuatku limbung karena dehidrasi. Aku berjalan memasuki gang-gang kecil menuju salah satu rumah kontrakan para ikhwan. Di sana akan diadakan rapat organisasi mahasiswa ekstra kampus. Aku memang sibuk. Lebih sibuk di luar daripada di kampus. Energiku kubiarkan terkuras…biar capek dan istirahat begitu sampai kost-an. Menghindari jeda…memikirkanmu.

Aku merasa aman dengan ketatnya interaksi antara ikhwan-akhwat di organisasi itu. Kami tidak saling tahu rupa masing-masing karena selalu ada tabir saat rapat dilakukan. Hanya hafal suara saja. Apalagi rata-rata kami berasal dari fakultas yang berbeda. Mana aku tahu seperti apa penampakan ikhwan yang menjadi ketua departemenku, demikian pula ikhwan lain…meski begitu, kami selalu sukses menyelenggarakan acara pengabdian masyarakat. Walau tanpa tatap muka. “Ukh, tolong belikan jeruk 5 kg. Buat acara besok.” ketua departemenku menyelipkan beberapa lembar rupiah melalui bawah tabir. “Ya, jawabku.” “Anti (kamu) tawar ya, biasanya sekilo 5000. Minta diskon 10%. Bla bla bla…” cerewet sekali.

Ikhwan itu perfeksionis sekali. Rapat koordinasi menjadi lebih lama karena selalu ia membahas hal-hal sampai mendetail. SMS-SMS bertubi datang ke inbox para stafnya berisi undangan rapat dan reminder2 target kegiatan. Aku sebagai sekretaris departemen itu, sangat bersabar meladeni semua perilaku perfeksionisnya. Hampir 9 bulan bersama, aku tetap tahu wujud ikhwan yang kuliah di Fakultas Sastra itu. Aku dengar dia juga angkatan 2002. Dan katanya sudah bekerja di sebuah lembaga dana sosial. Dia selalu protes kalau aku liburan ke Bandung. “Pulang lagi? Jangan lama-lama, Jumat depan kita syuro untuk bahas kegiatan baksos.” “Ga janji.” Lalu dia menasehatiku. Kubaca saja SMS-SMS dakwah itu. Kesal
==============

Berkas syuro yang dimintanya sudah kusiapkan. Kutaruh di meja luar kontrakan ikhwan yang menjadi base camp kami. Ku SMS dia untuk mengabari keberadaan berkas itu. Aku kembali kost-an. Sudah siap untuk pergi. Hpku bergetar. Datang SMS balasan dari si ketua departemen (kadep), “Sampai kapan di Bandung, Ukh?” Rese banget ya.. Aku mau pulang sebentar saja. Dan kali ini bukan ke Bandung. SMSnya tidak aku balas. Ya. Aku tidak jadi ke Bandung, tetapi ke Denpasar. Mama Papa tinggal di sana, kakak dan adikku di Bandung. Kami berpencar dengan alasan yang berbeda. Mama Papa tidak berencana ke Bandung katanya saat itu. Maka aku memilih pulang ke Denpasar. Hanya 35 menit lamanya perjalanan dengan pesawat
=============

Di rumah Denpasar. Rumah dinas yang bersih. Mamaku rada OCD. Rumahnya selalu kinclong. Aku duduk di kursi ruang makan, nyemil apapun yang ada di sana. Anak kost-an..biasanya cuma makan nasi pakai abon doang, pulang ke rumah orang tua terasa begitu nikmat. Mamaku sedang menggosok lantai memakai p*rstex & sikat gigi bekas. Sambungan antar ubin ia pastikan putih kembali. Oh Tuhan..maafkan aku yang tidak berminat membantu.. aku asyik mengunyah jajanan2 yang sangat jarang kunikmati di kost-an. “Mah, Mama dulu nikah umur 21 kan? Aku boleh dong nikah umur segitu?” “Sekolah dulu atuh.” “Lah Mama juga umur 21, aku tetep kuliah kok Mah.” Mamaku diam. Entah *abai* atau *not responding*. Khatam aku dengan 2 hal itu.

Mamaku nikah di usia 21. Beliau kuliah di akademi sekretaris. Suatu hari di zaman mereka, Papaku mengajak Mama nikah dengan menanyakan: “Mau nikah apa kuliah?” Tanpa pikir panjang lagi, Mamaku memilih meninggalkan yang kedua untuk mendapatkan yang pertama. Singkat cerita, mereka menikah. Mamaku 21 tahun. Papaku 28 tahun. Oktober 1981. Sesimpel itu ya. Aku jadi mengira-ngira, dengan siapa aku menikah nanti? Apa aku akan mendapatkan suami seperti Papa? “Enak aja…ga bisa lah..Papa mah antik…ga akan ada lagi yang kayak begini,” seloroh Mama sombong saat aku bilang ingin mendapatkan suami seperti suaminya. Iya benar, Papaku itu special edition. Very limited edition.
=============

Usai liburan aku memulai kembali aktivitas di kota pahlawan. Ponselku bergetar lama. Ini telfon masuk..bukan SMS. Kakak angkatanku menelfon. “Dik, weekend besok ikut pelatihan kehumasan ya…di Al F***h. Mewakili kampus B.” “OK, Mbak. Siapa aja yang ikut selain aku?” “Cuma anti dan Akhi Kadep.”
Oh… hmmm…
“Ya Mbak.”

Weekend tiba. Pelatihan itu tidak ada tabirnya. Aku jadi tahu wajahnya. Ah dia pasti tidak tahu aku. Toh tidak pernah bertemu. Kami mengikuti pelatihan itu sampai keesokan harinya.
Sore sebelum penutupan, ada SMS dari kadep. “Ukh, nanti jangan pulang dulu. Ane punya mangga buat anti.” Aku baca ulang…memastikan itu tidak salah kirim. Ha? Mangga? Aku diamkan saja. Saat hendak pulang, SMS masuk lagi. “Sebentar Ukh..tunggu di sebelah rak sepatu.” Oh, tidak salah kirim? Kok dia tahu aku sedang pakai sepatu? Dia tau aku? Aduh…sungguh grogi. “Assalamu’alaikum…ini ya Ukh.” “Ya…jazakallah khairan.”
Oh tidak..rasanya sedikit mirip saat menerima Al Qur’an hijau beberapa tahun lalu. Sedikit kok. Eh.. Ini hal biasa atau tidak ya, semua orang bisa melakukannya kan? Cuma mangga 3 biji. Emm.. rasanya manis…aduh manisnya…

Aku merasa berdosa. Aku ingat pernah memberinya kaos dari Bali sepulang dari liburan ke Denpasar. Tetapi semua ikhwan kuberi, yang akhwat kuberi kipas. Apa karena itu dia membalasnya dengan mangga? Aku ceritakan hal ini pada seorang akhwat seangkatanku. “Kalian ini maksudnya apa? Investasi hubungan? Saling niteni? Hentikan ya! Kalau gak, aku yang ngomong sama kadepmu itu!”

Aku jernihkan pikiranku. Menelisik ke dalam diri. Mengapa aku menikmatinya. Ah, ini sudah tidak beres. Aku ganti nomor. Menghindarinya. Menghilang..tidak datang syuro sekian lama. Namun kadep berhasil mendapatkan nomorku. Ingin rasanya segera berakhir kepengurusan ini. Berpindah departemen atau kembali ke SKI Fakultas saja
===============

Bulan depan kepengurusan berakhir. Aku pindah ke departemen lain dengan posisi yang sama: sekretaris departemen. Dipastikan kadep tidak bergabung lagi karena ia mengetuai SKI Fakultasnya. Lega namun ada yang hilang terasa. Aku akan baik-baik saja.
Beginikah Engkau menyelamatkan kami dari interaksi yang salah itu? Seperti Engkau menjauhkan aku dengan kamu, menggariskan takdirku kuliah di sini dan kamu di sana? Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu di sana? Bagaimana aku bisa mengetahuinya…
1998. Aku dan kamu mulai dekat sejak bersama dalam sebuah tugas kelompok kelas 3 SMP. Inikah kamu, yang orang Jawa itu? Siswa pindahan saat kelas 1 di SMP kita. Aku juga siswa pindahan, tetapi pas kelas 2. Aku tidak mengenalmu sebelumnya. Hanya dengar2 saja, bahwa kamu menghuni ranking 3 besar selama ini. Malam itu aku mengenalmu. Kelompok kita kelompok terakhir. Isinya siswa pindahan, pemilik nomor induk urutan akhir. Ramai sekali kegiatan mengerjakan tugas itu. Lucu, selalu tersenyum, & ekspresif. Kamu selalu mempraktikkan apa yang sedang kamu bicarakan. Sungguh aku terhibur. Kamu sangat jenaka. Aku selalu tertawa melihat tingkahmu. Sulit untuk tidak memperhatikan si jangkung itu.

Di sekolah, kita sering duduk berdekatan. Kalau pulang sekolah, kamu suka iseng menarik tasku tanpa bicara apa-apa. Kamu sering menyuruhku pulang saat aku berlama-lama di kelas padahal supirku sudah menjemput. Setelah malam itu kamu jadi sering ke rumahku. Kadang aku yang ke rumahmu bersama teman-teman. Kamu selalu bersama seorang teman kita dari kelas lain jika mengunjungiku. Hampir setiap malam minggu. Kamu bilang pada teman kita, aku itu unik. Aku tidak berani tanya maksudnya 🙈

Aku gusar. Tidak…ini tidak boleh terjadi. Kita bersahabat. Tidak boleh ada yang melewati batas itu. Aku mewanti-wanti diriku. Bahaya ini..karena setiap malam minggu aku selalu menanti kehadiranmu dengan motor yang berisik itu, namun aku menyukai jika aku mendengarnya dari dalam kamar. Artinya, di situ akan ada kamu, di teras rumahku. Ah, zaman itu. Begitu saja sudah bahagia. Aku mencoba menghayati rasa yang mulai merepotkanku itu. Ah, ini hanya sesaat. Aku mungkin sedang bahagia dengan sahabat baruku. Nanti juga hilang. Sayangnya aku salah besar. Kenyataannya, rasa itu bagai bunga edelweiss. Apapun yang terjadi, ia abadi.

“Aku ga mau lihat kamu nangis lagi besok-besok,” ucapmu di sambungan telfon. Aku masih nangis sambil mengiyakan. Malam itu kamu menelfonku setelah siangnya ada peristiwa aku menangis tanpa henti pulang sekolah. Tidak bisa menerima perasaan itu. Aku tidak mau. Dan kamu bingung melihatku menangis tanpa tahu sebabnya. Aku tidak pernah bilang apa-apa. Aku bilang aku baik-baik saja. Tentu saja kamu tidak akan percaya. Kamu mengajakku keluar sekolah dan menemani sampai mobil. Aku suka melihat wajah kebingungan itu. Sungguh menyenangkan.

“Gak pa-pa.., perasaan itu wajar,” kamu bilang begitu saat mengetahui bahwa aku merasa bersalah atas rasa itu. “Kamu jangan berubah ya. Kita tetap sahabatan kan? Ga boleh ninggalin aku.” jawabku masih nangis..aku malu. “Iya…aku ke sana sekarang ya,” jawabmu. Suasana malam itu begitu canggung. Wajahmu berubah. Aku merasa sangat insecure. Tetapi benar, nyatanya kamu tidak pernah sama sekali meninggalkanku. Justru akulah yang begitu egois. Meninggalkanmu. Menutup semua pintu yang memungkinkan kita untuk bisa bersama. Tidak bisa. Selamanya.
==============

Kakak muslimah rohis di SMA-ku begitu gigih mengajakku ikut kajian setiap Jumat siang. Aku belum berhijab waktu itu. Dengan mudah aku hadir setiap Jumat. Damai rasanya. Smooth sekali cara mereka mendakwahiku. Mereka anggun dengan pakaian muslimahnya…dengan kerudung yang menjulur menutupi dada. Mereka baik, menasihatiku untuk segera berhijab namun aku hanya nyengir sambil berlalu. Rengkuhan mereka begitu halus mengetuk hatiku. Sepertinya mereka bersekongkol menjadikan aku target berhijab. Ada salah seorang ikhwan dari kelas lain memberiku buku *101 ALASAN MEMAKAI JILBAB* Oh, baiklah… kubaca lembar demi lembar. Buku sederhana yang membuatku sangat tersudut.
Suatu sore di Jumat, aku datang ke sekolah mengikuti kegiatan PRAMUKA. PRAMUKA adalah ekskul wajib. Walau tidak hafal dasadarma, aku harus hadir. Mengikuti upacara, menyanyi, dan berbagai rangkaian kegiatan sampai selesai. Sore itu aku dijemput orang tuaku. Ada hal yang aneh kurasakan. Ada keinginan yang begitu besar untuk berhijab sampai menyesakkan rongga nafasku. Aku melihat diriku yang lalai. Sudah seharusnya aku berhijab. “Allah tahu kita mampu atau tidak, kalau mampu tapi tidak berhijab bagaimana Allah mau mencintai kita?” ucapan kakak rohis terngiang semakin jelas. Aku bilang kepada ortu di perjalanan pulang. “Nanti buka tutup…dilepas dipasang… kayak gitu gak?” Mamaku menantang.
“Nggak, Mah..” jawabku pelan. Rasanya begitu haru tak terjelaskan ketika aku diizinkan berhijab. Seninnya aku berangkat dengan pakaian baru…berkerudung. Kakak-kakak rohis mendatangi kelasku. Memelukku dengan erat. Mereka terlihat begitu bahagia…seperti yang aku rasakan. Bel masuk sekolah membubarkan kami. Aku duduk di bangkuku. Guru belum hadir saat itu. Tiba-tiba kudengar bunyi “jegrek” yang berasal dari gagang pintu penghubung antara kelasku dan kelas sebelah. Pintu itu terletak di bagian depan dinding kelas kami, sejajar papan tulis. Kami sekelas memperhatikan gagang pintu yang bergerak terus sampai akhirnya terbuka.
“Brakkkk!” pintu penghubung terbuka sedikit. Dari bagian samping atas pintu yang terbuka, muncullah kepalamu sampai batas leher saja. Kami sekelas kaget seketika kemudian tertawa karena lucu sekali. Pandanganmu menyapu seluruh bagian kelas dan terhenti saat beradu pandang beberapa saat denganku, kemudian menutup pintu penghubung itu tanpa bilang apapun. Teman-temanku yang menyaksikan kejadian itu bersorak lagi… “Kangen kali tuh!” “Cieeee” dan macam-macam celetukan lainnya yang ditujukan kepadaku. Aku merasa dia mencariku. Mungkin…karena aku baru berhijab. Mungkin ingin lihat saja. Mungkin. Ah…Aku terhibur dengan kejadian pagi itu.

Dengan berhijab, aktivitasku tidak terganggu sama sekali. Aku masih bisa kesana-kemari, ikut kegiatan, les komputer, basket, voli, jadi panitia, pengurus OSIS, dan tentunya rohis. Meski belum terlalu syar’i, aku tetap berusaha semaksimal mungkin. Aku sering bimbang karena hal-hal sepele…salah satunya tentang berboncengan dengan lawan jenis. Ehm..maksudku dengan kamu. Aku sering diantar pulang dari tempat les komputer. Sejak berhijab aku benar-benar kepikiran tentang hal ini. Seperti ketika sore itu sepulang les komputer, suatu hari di akhir tahun 2000. Hujan begitu deras. Setengah jam lagi maghrib tiba. Kami masih di tempat les menunggu hujan berhenti. Jangankan berhenti. Mereda pun tidak.

Kita memutuskan menerjang hujan yang masih saja turun. Suara hujan bercampur angin yang begitu kuat menghujam kita yang tengah berada di atas motor. Kita seperti sedang marah-marah , bersuara keras setiap kali saling bicara. Kadang aku geli sendiri mengingat itu, kok saat hujan badai kita memaksa ngobrol..padahal jelas berisik sekali. Akhirnya kita tiba di rumahku. Hujan masih saja sederas tadi. Aku mengusap wajahku untuk menyingkirkan air..aku menggigil, memejamkan mata sebentar. Dingin sekali. Saat kubuka mata, kudapati kamu masih di atas motor, memandangiku, kemudian berlalu meninggalkanku tanpa kata. Sungguh, gemuruh di dada ini tidak mampu aku maknai.
==============

Kadang aku jengah dengan rasaku padamu. Aku mau berteman baik saja tanpa ada rasa-rasa aneh itu. Pernah suatu waktu aku membayangkan, seperti apa ujung dari pertemanan ini.. Aku tidak siap membayangkan bagaimana selanjutnya aku dan kamu. Belum terpikir apapun kala itu. Aku terus jalani hariku di SMA, menikmati setiap kegiatan-kegiatanku. Semakin lama, aku menemukan keresahan dalam diriku. Tentangmu. Aku tidak mau kehilangan. Duh, mengapa semengerikan ini.. Dan di kelas 3 hadirlah gadis peminjam mukenaku. Sungguh aku kalah jauh darinya dari sisi apapun. Aku harusnya sadar diri. Kita hanya sahabat.
============

Gadis itu…berusia 3 tahun lebih muda dari kita. Wajahnya cantik dan keibuan. Rambutnya tergerai 10 cm dari bahu. Kulitnya putih berseri. Dia tidak seperti anak seusianya. Terlihat dewasa. Aku mundur teratur. Itu tipe perempuan idamanmu. Jelas aku tidak sesempurna itu. Ada sedikit kelegaan dan akan bisa berperan utuh sebagai sahabat saat denganmu. Aku jadi bisa kejam pada hatiku sendiri. Dan harus tahu diri. Aku harus lebih pandai lagi dalam memaknai setiap sikapmu padaku. Tidak ada apa-apa. Selain teman. Tidak yang lainnya.
Mungkin memang harus sekejam ini agar aku bisa membantai hatiku sendiri. Sosok gadis itu sudah cukup memporakporandakan kepercayaan diriku. Aku tidak pernah lagi berinteraksi denganmu di sekolah. Aku berhenti les untuk melindungi diriku sendiri. Aku ingin segera pergi dari situ. Pergi jauh sampai aku bisa melupakanmu. Aku takut jika kita dekat lagi, akan ada ketakutanku akan kehilanganmu lagi. Biarkan aku pergi.
==============

Februari 2014. Saat itu liburan semester. Aku ikut orangtuaku yang bermaksud menghadiri undangan pernikahan di kota tempatku sekolah. Malamnya, aku tidak ikut ke undangan. Aku pergi dengan beberapa teman ke sekolah. Spontan aku mengingat boncengan terakhir denganmu tahun lalu. Aku sedikit berharap ada kamu di sekolah seperti terakhir kita bertemu. Akan tetapi, sekolah sepi…mushalla juga sepi. Aku sedikit kecewa. Kami putuskan untuk silaturrahim ke rumah teman-teman, ada atau tidak, kami tetap akan berkunjung menyambung silaturrahim dengan orangtuanya. Setelah kunjungan pertama selesai, aku menelepon rumahmu. Mamamu yang mengangkatnya. Beliau masih mengenaliku.
“Tante, saya sedang di kota ini dengan Mama Papa. Saya mau ke sana sama teman-teman…,” ucapku pada beliau. “Waduh nggak usah ke sini Mbak, nggak usah repot-repot. Anaknya juga gak di rumah,” kata beliau. Aku curiga ada salah. Sepertinya beliau keliru memahami kalimatku. Aku bilang aku sedang di kota ini bersama ortu dan mau ke sana, tidak mendengar kata-kata *sama teman-teman* Jangan-jangan beliau mengira aku akan silaturrahim ke rumahnya dengan Mama Papaku. Ya Rabb…aku perjelas sampai kusebut nama teman-temanku…namun beliau sepertinya masih salah paham. Mungkin aku yang grogi sehingga kata-kataku kurang jelas. “Baik, Tante..mohon maaf..Wassalamu’alaikum.” Mengapa jadi begini?
Lagi-lagi aku menyesal. Ini tidak seharusnya terjadi. Aku merasa perlu mengklarifikasi hal ini dengan memint bantuanmu. Malam itu juga aku membuat SMS panjang berisi penjelasan atas kejadian tadi. Aku memohon padamu untuk membantuku meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi. Tidak mungkin aku ke rumahmu bersama orangtuaku. Aku saat itu bertiga dengan teman-teman perempuan. Kukirim SMSku padamu. Statusnya terkirim. Aku menunggu balasanmu. Satu jam…belum dibalas. Sehari..tidak juga. Seminggu..tidak juga. Dan memang tidak pernah ada balasan. Aku merasa tidak dianggap penting. Aku benci padamu. Aku marah sekali.
Aku sangat malu. Aku tidak mau lagi denganmu.
Apa susahnya membalas SMSku?
Apa kamu kehabisan pulsa? Apa kehabisan pulsa itu terus menerus? Aku tahu kamu pasti kebingungan meresponku. Tetapi mengapa hanya diam saja? Sstidaknya cobalah memberi balasan.
Diam itu menyesatkan. Dan menyiksa. Diammu itu menjadi ganjalan besar..bagiku.
Aku pergi membawa kekecewaan besar. Aku pelihara kekecewaan itu sampai lama sekali. Sembilan bulan setelah kejadian tersebut, angkatan kita mengadakan reuni di aula sekolah. Aku diminta teman-teman menjadi dewan rapat di depan, bertiga dengan 2 teman laki-laki. Aku melihat kamu ada di kursi peserta, bahkan sempat berbicara memberikan saran ketika rapat. Aku masih marah. Aku tidak mau berbicara denganmu. Aku betul-betul ketus padamu. Kita berpapasan di jalan setapak antara aula dan kolam ikan. Kamu ucapkan salam…aku menjawab sambil berjalan cepat. Aku berharap kamu paham. Tetapi sayangnya tidak. Aku masih marah. Aku serius kali ini.
==============

Pertengahan tahun 2005. Di kampusku sedang disibukkan oleh banyaknya sidang skripsi. Aku menjadi penonton beberapa sidang skripsi kakak kelasku. Aku jadi terdesak untuk lebih fokus belajar. Selama ini kebanyakan beraktivitas di luar. Saatnya kembali ke kampus…bertepatan dengan pergantian pengurus di berbagai organisasi mahasiswa yang aku ikuti. Singkat cerita, ada kakak kelas yang bermaksud mengkhitbahku. Andai kamu tahu, yang terlintas di benakku adalah kamu. Ini tidak main-main..ini darurat. Aku panik.
Aku coba mengirim SMS. Tetapi nomormu tidak aktif. Lalu aku menghubungi teman kita yang almamaternya sama denganmu. Teman kita bilang kamu sudah lama tidak kelihatan. Nomor hpnya juga tidak ada. Aku ingin bicara denganmu. Aku harus bicara… Aku menyesal sudah marah terlalu lama. Ya Rabb…tolong hubungkan aku dengannya… Aku bergegas ke warnet. Kucari email terakhirmu untuk kureply. Aku mulai mengetik…
Kukumpulkan keberanian yang tidak pernah aku miliki sebelumnya. Aku tidak lagi memikirkan rasa malu, gengsi, dan sejenisnya. Aku sangat memerlukanmu. Sungguh…
Aku koreksi bolak-balik isi email itu…kuakhiri dengan mengklik simbol SEND.

Assalamu’alaikum. Semoga keadaanmu baik dan sehat. ***, kamu bisa segera hubungi aku? Aku coba sms kamu, tapi ga nyampe. Failed reportnya. Aku tanya **** katanya dia ga punya nomermu. Dia juga bilang kalo kamu ga pernah nongol lagi. Makanya ini kukirim imel.
***, aku ga tau pantas atau ga aku menanyakan hal ini. Sebetulnya aku malu. Aku ga mau mengganggu kamu..tapi ini sangat penting. Aku mau tanya, ***…apa kamu terpikir untuk bisa hidup bersamaku suatu hari nanti? Ada yang mau mengkhitbahku. Aku belum kasi jawaban. Aku inginnya dengan kamu saja. Tolong hubungi aku secepatnya ya.. nomor hpku 0812xxxxxxx no.kost 031-394xxxx. wass wr wb

Aku lemas sesaat setelah mengirimkan email padamu. Ini sungguh pertaruhan yang berisiko tinggi. Aku sangat menunggu telfon darimu. Setiap hari aku ke warnet mengecek email. Setiap ada pesan dari nomor tak dikenal atau ada telepon masuk, jantungku berdebar kencang. Aku menunggumu sampai hampir sebulan. Tidak ada kabar sama sekali. Aku menangisi nasibku. Aku benar-benar tidak kamu inginkan. Aku menelepon Mama Papa dan cerita mengenai orang yang hendak menjadikan aku sebagai istrinya. Dimanakah kamu? When I need you in the most, you were nowhere to be found.

Desember 2005. Besok akad nikahku. Aku sudah berada di Bandung sejak kemarin. Di rumah sudah banyak orang. Aku masuk ke kamar kakakku. Mau internetan. Satu-satunya komputer ada di kamarnya. Aku buka situs-situs favoritku. Buka berita bulutangkis, situs e-card, dan juga email serta yahoo messenger. Aku buka inbox, kulihat ada dari Akhi Kadep. Aku membuka dan mulai kubaca. Sekilas kulihat isinya sangat panjang dan berbentuk cerpen. Aku menunduk dan hanya bisa menangis setelah memahami isinya. Aku balas saat itu juga. Aku memohon maaf atas segala yang pernah aku perbuat sehingga ia begini. Datang 1 email lagi darinya. Membuatku semakin merasa bersalah.

Kubersihkan inbox dari email yang isinya iklan-iklan. Jumlahnya puluhan. Kuhapus dengan sekali klik pada fitur *click all* lalu *delete*. Perlu beberapa kali melakukannya sampai tuntas. Kucermati salah satu email: Mail Delivery System di bulan September 2005. Kubuka dan kubaca. Dadaku sesak sekali… ini notifikasi bahwa emailku tidak terkirim. Menurut isi email itu, alamat email tujuan salah. Aku semakin panik. Tangisku menjadi. Ya Tuhan…hanya kurang 1 huruf. Ya Tuhan…mengapa sefatal ini. Aku mengutuk diriku sendiri. Mengapa sehari sebelum akad nikah, aku dihadapkan pada fakta-fakta tragis. Sulit aku memaafkan diriku sendiri.
==============

Kamu hadir di resepsi pernikahanku yang dilangsungkan 14 hari setelah akad nikah di sebuah gedung dekat stasiun Bandung. Dari ruang rias aku melihatmu di luar sana bersama sejumlah teman SMA kita. Kuatur nafasku yang mulai tidak karuan. Resepsi pernikahan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Ada 2 panggung yang posisinya seperti gawang sepak bola, satu di sisi kiri, lainnya di kanan. Gedung dibelah 2, dibatasi pohon palem setinggi manusia. Tempatku yang lebih tinggi memungkinkanku untuk bisa melihatmu yang sedari tadi berdiri di seberang sana menghadap ke arah area perempuan. Ya, sudah seharusnya sahabat menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Ah, terima kasih.
==============

Aku dan Kamu: Sampai Jumpa Lagi

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 9:35 am

(2010)
“Beban pikiranku semakin banyak. Penuh sekali di sini,” tukasmu seraya menunjuk ke arah kepala, dengan pandangan dan sikap tubuh mengarah ke televisi yang menyala di ruangan itu.

Aku diam saja. Dengan jarak 2,5 meter darimu di atas sofa empuk yang ukurannya lebih kecil dari sofa yang kau duduki, aku menunggumu bicara sambil memainkan ponsel. Sengaja kubiarkan kamu sampai bicara sendiri. Aku ingat kamu pernah bilang, kamu tidak suka membicarakan diri sendiri,…malu, katamu. Maka aku tahan deretan pertanyaan yang sudah mengantri sedari awal kamu duduk di situ.

Aku sudah hafal betul segala gelagat dan gerak-gerikmu. Tidak sedikitpun aku bertanya. Aku hanya menanggapi setiap ceritamu. Menunggumu menyampaikan sesuatu di pikiranmu yang katanya makin berat itu. Dan seperti biasa…sepertinya urung kamu sampaikan. Kedongkolanku memuncak. Kamu kenapa, sih? Jauh-jauh turun gunung menemuiku hanya untuk seperti ini saja? Tanyaku.. dalam hati. Usia kita 25 tahun..tapi aku merasa mental kita saat itu berusia 10 tahun lebih muda. Merasa tidak sanggup memaksimalkan pertemuan singkat dan jarang itu seefektif mungkin.

Saat kamu pamit pulang, aku tahu sebenarnya kamu masih belum ingin meninggalkan rumah orang tuaku itu. Norma kepantasan dan batasan yang begitu nyata, memaksa pertemuan tersebut berakhir. Sambil berjalan menuju motor, kamu terus bercerita. Bahkan sesudah di atas motorpun tidak segera keluar gerbang dan pergi. Sampai akhirnya kamu berada di luar gerbang, aku berjalan menuju pagar dan mulai menutupnya. Aku teringat oleh-oleh yang dibawanya tadi, aku tertawa..tumben bawa oleh-oleh.
“Eh..makasih ya oleh2nya..hi hi.”
“Kenapa ketawa?”
“Gapapa, lucu aja”. Kamu memandangiku heran, kemudian nyerocos (lagi) tentang metode dan teknologi pembuatan oleh-oleh itu. Tidak jadi pulang.
“Aku pulang, ya?” ucapmu keempat kalinya.
Aku mengangguk pelan. Mesin sepeda motormu sudah menyala tetapi tidak juga melaju. Malam terasa begitu pekat dan semakin dingin. Di sana tidak ada lagi kata, hanya berpandangan sekian detik. Sungguh aku benci. Pandanganmu membuatku begitu tersudut. Rasa bersalah menyelimuti, dan gerudukan ingatan mengenai kejadian adu pandang serupa di masa yang lalu hadir kembali saat itu. Kulambaikan tangan sambil mundur beberapa langkah. Pergilah. Dan kamu berlalu.
==============


(2001-2002)
Seperti yang selalu kamu akui, kamu tidak pandai berkata-kata. Kamu butuh waktu lama memilah kata sebelum terucap. Kamu sangat ekspresif dalam bercerita apa saja kecuali tentangmu. Dan aku sudah ahli dalam memahami serta menangkap maksudmu saat kita mengobrol.
“Kok kamu tahu, sih?” protesmu saat itu.
Aku hanya tertawa. Sayangnya, aku selalu gagal memahami alasan yang membuatmu selalu hadir di saat-saat pentingku. Saat aku kalah tanding basket melawan SMA lain, kamu yang tadinya ada di tribun penonton tiba-tiba sudah ada berada di samping tasku, menemaniku yang tengah menangisi kekalahan.
Kamu hanya bilang, “Poinmu tadi keren, shootnya,” seraya memberi isyarat dengan jempol.
Di lain kesempatan, saat kamu tanding voli, gantian aku jadi penonton di tribun. Servismu gagal sampai dua kali. Dengan postur menjulang begitu, tidak semestinya bola menyangkut. Terjadi pindah bola dan tiba giliranmu menyajikan servis, aku memanggilmu dari kursi terdepan tribun yang tepat berada di sisi kiri lapangan pertandinganmu. Kamu menepi menengadah dan mendengarkan kata-kataku.

“Tenang, kalem aja,” ucapku.
Kamu mengangguk, kembali ke sisi belakang lapangan diiringi sempritan peluit wasit yang kesal menunggu kami berbicara. Begitulah. Sahabat lazim saling mendukung.
=============

Siang itu aku agak malas mendatangi rumah salah satu sahabat perempuanku. Dia minta aku segera datang. Panas- panas begitu…harus keluar rumah. Setelah makan siang dan ganti pakaian, aku cari kerudung instan putih andalanku. Aku pergi dengan sepeda motorku. Aku tidak berpikir ada apa. Biasanya juga begitu. Sesampainya di sana, tanpa basa-basi, sahabatku memberitahuku sebuah kenyataan yang meremukkan ruang hatiku: “Dia pacaran dengan gadis yang meminjam mukenamu di tempat les. Dia tidak mengizinkan siapapun mengatakan padamu. Dia akan bilang sendiri.” Aku tidak mampu berkata apapun. Aku berterima kasih dan langsung pergi. Jangan tanya sebasah apa wajah dan kerudung putihku saat itu.

Aku kalut. Bagaimana cara menghentikan air mata yang terus bergulir tanpa ampun? Aku inginnya ini hanya sebuah mimpi. Aku mencoba mengidentifikasi…apa sebenarnya yang membuatku shock seperti ini. Dia anak rohis..mengapa pacaran? Tetapi anak rohis juga manusia yang bisa khilaf, bela hatiku. Bergantian suara hatiku berteriak, diselingi wajah gadis peminjam mukena yang begitu cantik dengan rambut lurusnya, dan laku yang santun.
Oh dia…

Semalaman aku mengurung diri. Entah mengapa berangkat ke sekolah esok hari begitu berat kurasa…mencekam…aku tidak siap.
Aku menjalani hari-hari yang berat setelahnya. Entah mengapa. Sisi terbaik dari kejadian itu adalah semakin rajinnya aku ke mushalla di jam istirahat. Tenang sekali rasanya walau sungguh rasa rendah diri dan mungkin patah hati (?) terus menggelayuti. Ikhwan-ikhwan rohis yang melihat perbedaan sikapku menyapaku di suatu pagi.
“Aku percaya pelarianmu akan menuju hal-hal baik.”
Ah tahu dari mana dia mengenai kondisiku. Oh ya..dia sekelompok ngaji dengannya. Aku sesenggukan lagi.
==============

Suatu sore, aku sengaja datang ke tempat les lebih awal untuk meminta perubahan jadwal. Aku tidak mau sekelas dengannya, cukup di sekolah saja. Sambil melaju dengan motor kesayanganku, aku terpikir untuk memilih hari lain saja, kalau hanya pindah jam masih terbuka kemungkinan berjumpa. Aku berbelok memasuki gerbang tempat les itu. Aku terhenyak mendapatimu di beranda sedang ngobrol berduaan dengan gadis itu. Gaya saltingmu yang sangat aku kenali muncul sempurna saat itu ketika melihat aku datang…tetapi gadis di sampingmu yang masih bicara padamu, tetap memandangi wajahmu seakan tidak terganggu apapun.
Aku tidak jadi mengubah jadwal. Tetapi ini akan jadi hari terakhirku berada di sini. Aku tidak peduli.
==============

Sahabat perempuanku menyampaikan pesanmu padaku di suatu siang pulang sekolah. Kamu hendak berbicara denganku. Kamu akan datang ke rumahku. Aku bilang, aku tidak mau. Apa yang mau dibahas? Tidak ada yang perlu dibicarakan. Mau bicara tentang hubungan dengan gadis itu? Tidak perlu… tidak usah ke rumahku. Sahabat perempuanku sangat memahami dan tidak berusaha membuatku bersedia berbicara dengannya di rumahku. Sudah cukup. Tetapi seminggu kemudian kamu tetap datang di suatu malam bersama seorang teman yang tidak pernah kamu ajak ke rumahku sebelumnya. Bukan anak rohis, tetapi teman baik kami bersama…yang juga les di tempat yang sama. Apa sebenarnya yang kamu mau?

Sepanjang waktu berkunjungmu di malam itu, aku pasang wajah setenang mungkin. Aku yakin dia tidak akan bicara tentang gadis itu. Dia menghormati permintaanku.
“Kenapa kamu ga ikut les lagi?” kamu bertanya dengan dahi mengernyit.
Teman kita juga menunggu jawabanku. Sudah kuduga pertanyaan ini akan kamu lontarkan. Aku anggap ini pertanyaan normal..karena 3 bulan lagj kita ujian akhir nasional..agak aneh jika tiba-tiba berhenti les.
“Motornya dipakai adikku. Dia pakai buat les juga,” jawabku sekenanya.
Dia mengangguk-angguk. Tampak tak puas dengan jawabanku. Jawaban bodoh. Kamu melihat ke arah garasiku. Seperti ingin melanjutkan bertanya, “Kan ada mobil?” namun kamu memilih diam. Seperti biasa.

Setiap kamu bertanya padaku KENAPA, aku selalu berusaha menjawab dengan cara yang paling sederhana. Namun sebaliknya saat aku bertanya padamu KENAPA, aku tidak pernah mendengar jawabanmu? Padahal pertanyaanku tidak pernah sulit… seperti: “Kenapa kamu jauh-jauh datang ke sini?”
Kamu sangat jarang menjawab pertanyaanku. Lalu aku terpaksa menerka-nerka dan membiarkan logikaku memerangi perasaan-perasaan yang tidak pernah terkonfirmasi kebenarannya.
==============

Sisa waktu sekolah semakin berkurang. Sekolah terasa semakin menjenuhkan. Kehampaan yang aku hayati sejak mendengarmu pacaran sudah terasa biasa, tidak lagi mengganggu. Siang itu ada adik kelas berlari-lari ke arahku dan berkata,
“Mbak, besok PORSENI, siap voli ya? Kelas 2 masih kurang. Ambil 4 orang dari kelas 3.”
Bagaikan cinta yang bersambut, aku iya-kan tanpa ragu ajakan itu. Wali kelasku ngomel-ngomel..
“Kamu itu lho…bentar lagi ujian kok mau diajak tanding!?”
“Demi membela sekolah, Bu.. kan ujiannya 2 bulan lagi.”
Beliau bersungut-sungut dan enggan meladeni argumenku.

Sebagai tosser dalam tim voli sekolah, aku bertanggung jawab mengatur serangan. Tugas yang tidak mudah, apalagi aku belajar voli otodidak. Kadang masih banyak salahnya. Tetapi aku selalu senang bertanding. Bertanding di GOR itu. Dan di salah satu tribun itu ada kamu, dulu…
Sekarang mungkin tidak…karena kamu sedang di kelas…aku dengan tim voli dapat dispensasi untuk bertanding. Namun ternyata jadwal bertanding kami di sore hari… dan kulihat ada sosokmu di seberang sana. Aku buang muka.
==============

Di lapangan pertandingan aku merasa keren. Menjadi muslimah berhijab yang membela sekolah di pergelaran olahraga. Apalagi saat itu tim kami masuk semifinal. Kami bertanding melawan tim yang cukup tangguh sampai memaksa kami memainkan set ke-3. Dua poin lagi tim kami masuk final. Tetapi..”Krekkkkk” pergelangan kaki kananku berbunyi dan aku jatuh. Rasa nyeri menusuk ketika kucoba berdiri. Aku menangis histeris. Tosser cadangan menggantikanku.
“Please…2 poin lagi,” pintaku pada penggantiku.
Pertandingan dilanjutkan. Aku lega karena tim kami menang dan masuk final!

Teriakan supporter yang sepertinya bukan hanya berasal dari sekolah kami begitu riuh. Pandanganku menyapu seluruh sisi tribun penonton. Ah, di tribun sana ada seseorang yang sangat kukenal tengah berdiri memperhatikan kami di antara orang-orang yang duduk. Aku menangis lagi karena sakit…sakit yang berbeda dengan sakit karena patah hati.
==============

“Kamu itu wes tak kandhani, ojo vola-voli wae..untung ga patah kakimu…” wali kelasku ngomel lagi.
Aku cuma bisa nyengir, meringis kesakitan sambil mendengar segala wejangan dan tips untuk meringankan cederaku. Aku mensyukuri..di saat aku dalam kondisi sedih, aku dikelilingi orang-orang baik. Ketika patah hati, ada seorang ikhwan yang menasehatiku untuk sabar..dan memberiku kaset ceramah Aa Gym berjudul TAUBAT. Mungkin maksudnya mengarahkanku biar jadi anak rohis yang bener…? Di sisi lain, sahabat-sahabatku tidak mencoba mensterilkan telingaku dari kisah kasih kamu dengannya. Apa mungkin mereka melihat aku lebih menyenangkan saat patah hati?
==============

Perawatan cedera begitu merepotkan. Bolak balik ke fisioterapis. Setiap pagi masuk kelas harus dibantu teman. Pada suatu pagi aku sampai di sekolah mepet dengan bel jam pertama. Mama membantuku berjalan menuju kursi di sebelah pintu masuk. Biasanya ada teman yang stand by. Kali ini tidak. Aku menunggu sampai datang bantuan. Tasku aku selempangkan karena tidak ada satu teman lagi yang biasa membantu. Syutt..tiba-tiba kamu meraih tasku..kamu pakai sampai ke kelas. Aku kaget. Tidak kupungkiri. Ada rasa bahagia..namun aku tepis segera. Ah, semua orang bisa melakukannya. Hanya membawakan tas ke kelas. Tiba di kelas, sorak sorai menyambutku karena peristiwa tasku yang datang lebih dulu bersamamu.
==============

Ujian akhir nasional di depan mata. Aku menempati ruang pertama, sesuai urutan abjad. Sementara kamu di ruang terakhir. Saat melihat pintu ruang ujianku kulihat ada kamu. Aku meletakkan tas di luar ruangan. Kamu mendekatiku.
“Mohon maaf lahir batin, selamat ujian,” kau bilang sembari menangkupkan kedua tangan di depan dadamu.
“Ohya, sama-sama…”
Lalu kamu berlari menyusuri koridor sekolah, entah di mana ruang ujianmu. Aku sedang tidak menapak bumi…dua malam sebelumnya aku baru datang dari Bandung…karena Mbah Uti meninggal.
Di hari ke-4, ujian akhir selesai. Malam nanti ada perpisahan di sebuah ballroom penginapan yang biasa disewa sekolah kami. Aku datang sendirian.

Aku tidak duduk lama di bangku penonton, tetapi ke belakang panggung menemani adik-adik panitia penyelenggara. Berfoto bersama guru yang bertugas dan panitia sie atur acara. Setahun kemarin aku bertugas seperti mereka, denganmu juga. Dan aku ingin mengenang sedikit saja…karena besok aku akan pindah ke Bandung tidak hanya untuk bimbel persiapan SPMB, tetapi untuk seterusnya. Setelah acara selesai. Aku pulang. Ngantuk sekali..segera aku mengganti pakaian rumah. Sudah pukul 12 malam..

“Tok tok…assalamu’alaikum!” Ada suara satpam datang.
Aku buru-buru meminta sahabat perempuanku untuk membuka pintu. Aku tidak siap baju muslimah, kerudung, kaos kaki, untuk membukakan pintu. Aku masuk kamar dan melihat dari jendela kemudian terbelalak. Di depan rumahku, sudah ada kamu dengan motor itu…dikawal satpam menuju rumahku karena malam sudah sangat larut. Seharusnya aku saja tadi yang keluar.
“Nih, buat kamu. Dari dia. Salam katanya..dia langsung pulang.” Sahabatku kembali ke kamar dengan mata yang sudah sangat sayu. Sementara aku tidak jadi mengantuk..ingin segera mengetahui isinya.

Kudekap Al Qur’an pemberianmu. Ups..ada yang jatuh. Sebuah surat berwarna hijau juga.. Sebentar, Al Qur’an ini sangat mirip dengan Al Qur’an yang sore tadi kubeli dan rencana kuserahkan padanya bersama jam weker dengan lambang klub sepak bola favoritnya, besok sebelum berangkat ke Bandung. Aku tidak habis pikir…bagaimana bisa sama begini? Ukurannya sama, warnanya hijau.. Ah ini sebuah kebetulan saja. Banyak yang mengalami hal seperti ini, tepisku seperti biasa. Aku mulai mencermati kata demi kata di dalam surat itu. Tertulis begitu rapi…aku tertawa membayangkan berapa lama ia merangkai kata hingga mencapai 2 lembar penuh?

Saya tidak tahu mengapa bisa berlama-lama mengobrol bersamamu, di teras rumahmu, bisa sampai 2 jam.
Saya minta maaf karena selama ini sudah menyakitimu. Saya merasa sendiri dan teman-teman juga bilang begitu.

Aku tertawa sambil sesekali menyeka wajah yang terbasahi air mata. Baru kali itu aku bisa tertawa dan menangis dalam satu waktu. Aku sudah lupa persisnya bagaimana isi suratmu. Percayalah saat itu aku sudah memaafkanmu…tetapi aku pun tidak tahu untuk kesalahan yang mana. Selalu ada maaf buatmu.

Sulit untuk membendung derasnya kenangan yang ikut menggempur diriku dini hari itu. Kubolehkan semuanya hadir sesaat saja…dan kuharap besok aku meninggalkan kota itu dengan akhir yang lebih baik. Gerbang cita-cita begitu jelas di depan sana. Menyala berkilauan, membakar semangatku memasukinya, meninggalkanmu… Mungkin benar, lama-lama rasaku padamu bisa hilang seperti orang-orang bilang. Namun sungguh aku resah.. bukankah melupakan pun tidak bisa dipaksakan, layaknya cinta?

—oOo—

May 7, 2015

Begitu Indah Cara Allah Mencintaimu

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 8:55 am

BERANDA RASA HELVY TIANA ROSA

IMG_0078


(Untuk Mas Pepeng)

Sungguh indah cara Allah mencintaimu
Ia menghadirkanmu ke dunia
lewat rahim seorang ibu yang bersahaja,
dan kekal dengan tawakkal
Ibu yang menjadikan anak sebagai sahabat,
guru dan matahari
ibu yang sanggup hadirkan
sosok dan petuah ayah yang tiada lewat cerita

Betapa indah cara Allah mencintaimu
Ia beri sifat jenaka yang menjadikanmu
sang penghibur dalam segala musim dan cuaca
Maka tawa yang kau cipta
membuat hidup sekitar lebih bermakna

Allah mencintaimu
Ia beri ketinggian nalar dalam mencerna
Kau pun masuk ke dalam bukubuku tanpa pretensi
dan selalu kembali sebagai orang yang mengerti
dan memberi pengertian

Begitu indah cara Allah mencintaimu
Ia anugerahkan ketenaran nan memancar
agar berlimpah rizkimu,
agar tiap orang mengenal sosokmu
hingga ke jarijari mereka

Lalu tiba saat yang tak akan pernah kau lupakan itu
Ketika Allah memberi sakit yang mengiris iris
perih dan nyaris membuatmu tak berdaya
:multiple sclerosis
Mengapa?
Mengapa saya?
Mengapa tidak?
Pertanyaan-pertanyaan…

View original post 269 more words

February 15, 2015

Alhamdulillah…jadi ibu beranak tiga

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 8:03 am

image

Tanggal 13 Desember 2014 lalu aku melahirkan anak ketigaku melalui bedah caesar. Yes, it was my third caesarean section. Seperti saat hamil anak kedua, aku selalu berkeinginan untuk melahirkan pervaginam atau sering disebut melahirkan normal, tetapi dokter SpOG yang merawatku sejak awal kehamilan anak ketiga ini tidak menyetujui rencanaku, apalagi indikasi caesarku adalah indikasi yang menetap; panggul sempit. Aku mengalihkan pikiranku untuk menyiapkan diri sebaik mungkin menghadapi persalinan anak ketiga ini. Aku selalu jaga asupan makanan dan meluangkan waktu istirahat demi menjaga vitalitas tubuhku, menjaga tekanan darah dan berat badan agar terhindar dari komplikasi kehamilan. Alhamdulillah semua tercatat normal sepanjang kehamilan. Hanya 1 kali tekanan darahku melonjak hingga 150/100, tetapi penyebabnya diketahui yaitu kondisi psikis yang menekanku. Saat itu usia kehamilan 5 bulan, aku terpeleset di kamar mandi. Aku sangat ketakutan sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Dokter memintaku cek urin untuk mengecek ada tidaknya protein dalam urin berkaitan dengan melonjaknya tekanan darahku itu. Apabila ada, kemungkinan aku terkena pre eklampsia (keracunan kehamilan), apabila tidak ada atau negatif, dokter akan mencari penyebab lainnya. Alhamdulillah hasil cek urin menunjukkan negatif proteinuria. Dokter menyimpulkan aku hanya tegang saja. Memang benar, apabila mengalami kecemasan berlebih dan tidak bisa mengendalikan diri, tekanan darahku akan naik. Dokter menghimbauku untuk istirahat di rumah selama 2 hari. Tekanan darahku kembali normal di waktu kontrol kehamilan berikutnya.
Kadang aku masih ragu pada diri sendiri, apakah aku akan mampu menjalani peran sebagai ibu tiga anak dengan kondisi baru seperti ini? Kondisi baru berarti kondisi yang tidak sama dengan waktu di Bandung dulu. Dulu aku masih tinggal di rumah Mama Papaku, sekarang aku merantau hanya bersama keluarga kecilku, jauh dari orang tua dan kerabat. Aku dan Mas Halim sepakat memilih persalinan di Gresik saja dengan berbagai pertimbangan.
Setelah memastikan akan menjalani operasi caesar lagi, kami mengajukan tanggal 13 Desember 2014 untuk pelaksanaan operasi. Tidak ada alasan khusus di balik pemilihan tanggal tersebut, hanya menuruti saran dokter saja.
Hari itu, Sabtu, 13 Desember 2014, operasi dijadwalkan jam 8 pagi tetapi mundur karena alasan teknis. Infus sudah dipasang, tinggal menunggu saja. Jam 9 perawat masuk dan membawaku ke gedung lain tempat beradanya ruang operasi.  Perasaanku begitu datar saat itu. Aku ingin segera bertemu bayiku. Rasa takut dan ingatan ketidaknyamanan ruang operasi saat persalinan sebelumnya sempat muncul namun mampu aku tepis secepat mungkin. Membayangkan bayi mungil yang akan diletakkan di dadaku kemudian dia menyusu, sangat efektif melenyapkan ketakutan dan ketidaknyamanan. Pikiran-pikiran mengenai kematian, komplikasi dsb sudah aku pasrahkan pada Allah. Aku hanya ingin segera menyelesaikan persalinan ini, bertemu dengan anakku yang selama berbulan-bulan berjuang bersama menjalani kehamilan yang tidak mudah. Aku sudah siap menghadapi semua risiko. Ya, aku siap…
Dokter anestesi menyuntikkan obat…seketika separuh bawah tubuhku seperti geli dan kesemutan kemudian mati rasa. Setelah itu kateter dipasang. Selanjutnya aku hanya diam mendengarkan dokter-dokter dan paramedis berbicara sambil menjalankan operasi. Sekitar 10 menit kemudian perawat mendekatiku dan menyampaikan saat itu bayinya akan dilahirkan dan tubuhku akan disuntikkan obat induksi melalui infus. Perawat tsb menginformasikan bahwa obat ini akan menyebabkan mual dan menyebabkan mulut terasa pahit. Benar saja, sesaat setelah obat disuntikkan, mulutku terasa asam dan pahit. Tidak lama kemudian, dokter dan paramedia berseru dan mengatakan, “Alhamdulillah, cewek, Bu!”
Kudengar tangis bayi yang sudah lama aku rindukan itu. MasyaAllah… dia bayiku..anak ketigaku.. beratnya 3400 gram dan panjang 50 cm. Aku ingin segera keluar dari ruangan itu dan memeluknya. Aku terharu…entah bagaimana melukiskannya. Aku masih dipercaya Allah untuk memiliki anak lagi. Di hari itu, 13 Desember 2014, jam 9.14 WIB aku resmi menjadi ibu beranak 3!

February 7, 2015

Cinta Sudah Lewat

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 10:37 pm

image

Gambar di atas adalah status facebook saya di akhir bulan Oktober 2014. Beberapa saat sesudah saya posting itu, jumlah komentar cepat sekali bertambah. Notifikasi di fb saya terus berdatangan sampai beberapa hari sesudahnya. Komentar itu berhenti di angka seratus tiga puluh sembilan!!!
Hmm…
Segitu banyakkah yang mengalami?
….

April 1, 2013

Ketika Pernikahan Harus Berakhir

Filed under: Psikologi — by chandraniafastari @ 6:24 am
Tags: , ,

Kemarin di pernikahan Opik, ketemu seorang dosen yang katanya sudah bercerai dari suaminya. Berdasarkan informasi dari mahasiswa-mahasiswanya, dosen tersebut memang jarang berbagi mengenai kehidupan pribadinya, terutama pernikahannya. Paling banter beliau berbagi tentang anaknya. Ketika berbicara mengenai relasi perempuan dan laki-laki dalam pernikahan, beliau menekankan pentingnya kenyamanan di dalamnya. Apabila salah satu dari pasangan tidak bisa berkembang dan merasa tidak nyaman tanpa adanya titik temu yang mampu memperbaiki keadaan tersebut, hubungan tidak perlu dilanjutkan alias bercerai. Kadang saya merasa ada pesan-pesan subjektif yang terselip dari pernyataan beliau…tetapi setelah saya telaah lagi, apa yang disampaikan bukan hal yang salah. Bukankan dalam pernikahan memang dibutuhkan kenyamanan? Bukankah jika semua upaya telah dilakukan dan akhirnya mentok, bercerai bisa menjadi solusi? Untuk apa bertahan dalam pernikahan yang menyiksa hanya karena mempertimbangkan kesejahteraan anak-anak (bagi yang telah memiliki keturunan)? Bukankah dengan diakhirinya pernikahan akan lebih membebaskan himpitan dan tekanan psikis seseorang?
Saya hanya mencoba berempati pada orang-orang yang tidak bisa lagi melanjutkan ikatan pernikahan. Sangat mungkin permasalahan yang mereka hadapi sudah sangat pelik dan tidak menemui solusi terbaik. Jika memang cinta, seharusnya saling belajar untuk merespon kebutuhan pasangan DENGAN TEPAT. Belajar adalah bukti kesungguhan… Sementara enggan belajar dan tidak mau introspeksi serta mengakui kekurangan adalah bentuk kesombongan.
Dalam salah satu twit-nya di @JamilAzzaini, Kakek Jamil menuturkan, saya agak lupa persisnya, tetapi kira-kira begini: pernikahan adalah ibadah yang paling lama, untuk itu carilah pasangan yang mau belajar dan terus berbenah. Semoga Allah memampukan kita dalam menjalankan amanah rumah tangga ini. Aaamiin…

May 14, 2012

Merindu

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 4:58 am

Betapa saya merindukan perbincangan hangat, yang mengalir, memancarkan segala emosi, menghidupkan sisi hati yang gelap.
Betapa benak ini mendamba kembali suasana penuh ketulusan. Tatap yang penuh atensi, indera dengar yang aktif berfungsi, dan gerak tubuh yang tampil senada konteks bincang.
Betapa inginnya berada dalam suatu saat yang penuh dengan kehangatan, saat-saat membicarakan kisah bermutu, jauh dari ghibah dan kesombongan.
Betapa pedih kala saya begitu ingin berjumpa dengan seseorang yang begitu polos dan apa adanya, bercakap dengan asyik, tertawa penuh ekspresi. Begitu sederhana, namun teramat mahal untuk dicapai.
Kumerindu…
Entah bagaimana mencegahnya hadir dalam mimpi di setiap malamku
Tak ada kuasa…
Hanya hati yang mampu menceritakan kembali segala belenggu dalam benak ini
Hanya hati yang bisa mengerti
Hanya hati yang lantang menjawab ‘kau tengah tersiksa’
Hanya hati yang berani mengatakan ‘kumerindu’…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.