GET THE FULLY FUNCTIONING SELF

May 7, 2015

Begitu Indah Cara Allah Mencintaimu

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 8:55 am

BERANDA RASA HELVY TIANA ROSA

IMG_0078


(Untuk Mas Pepeng)

Sungguh indah cara Allah mencintaimu
Ia menghadirkanmu ke dunia
lewat rahim seorang ibu yang bersahaja,
dan kekal dengan tawakkal
Ibu yang menjadikan anak sebagai sahabat,
guru dan matahari
ibu yang sanggup hadirkan
sosok dan petuah ayah yang tiada lewat cerita

Betapa indah cara Allah mencintaimu
Ia beri sifat jenaka yang menjadikanmu
sang penghibur dalam segala musim dan cuaca
Maka tawa yang kau cipta
membuat hidup sekitar lebih bermakna

Allah mencintaimu
Ia beri ketinggian nalar dalam mencerna
Kau pun masuk ke dalam bukubuku tanpa pretensi
dan selalu kembali sebagai orang yang mengerti
dan memberi pengertian

Begitu indah cara Allah mencintaimu
Ia anugerahkan ketenaran nan memancar
agar berlimpah rizkimu,
agar tiap orang mengenal sosokmu
hingga ke jarijari mereka

Lalu tiba saat yang tak akan pernah kau lupakan itu
Ketika Allah memberi sakit yang mengiris iris
perih dan nyaris membuatmu tak berdaya
:multiple sclerosis
Mengapa?
Mengapa saya?
Mengapa tidak?
Pertanyaan-pertanyaan…

View original post 269 more words

April 15, 2015

Edit Sana Sini

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 8:41 am
Tags: , , , , ,

image

Sekarang ini semakin banyak orang tampil “sempurna” di medsos. Sempurna? Ya. Hasil editan…jasa photoshop dan kawan-kawannya.
Memang sebagian besar orang akan puas melihat dirinya sempurna kemudian ditampilkan di akun pribadi medsosnya. Jasa tools/aplikas semacam photoshop, camera 360 itu benar-benar sanggup menyulap tampilan diri menjadi sesuai harapan. Contohnya foto yang saya sisipkan di atas, bandingkan saja foto editan dan foto aslinya. Semua akan tercengang pastinya…tapi tidak kaget karena semua orang tahu ada perangkat berjasa yang ikut andil di dalamnya.
Hal menarik yang saya cermati justru orangnya. Betapa inginnya ia menjadi seperti hasil sulapannya. Apakah begitu tidak pedenya dengan diri yang riil sampai harus mengedit2? Fenomena apakah ini, ketika kesenangan dan rasa bangga akan pujian orang lain terhadap foto editan sangat dinikmati pelakunya? Semakin banyak pujian semakin getol pula pelaku membuat foto serupa dan mempublikasikannya di medsos.
Ya ini hanya contoh saja.
Buat para wanita…lebih bijaksana ya..terimalah diri apa adanya. Anda dicintai bukan karena kecantikan fisik…melainkan hati anda. Demikan…

February 15, 2015

Alhamdulillah…jadi ibu beranak tiga

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 8:03 am

image

Tanggal 13 Desember 2014 lalu aku melahirkan anak ketigaku melalui bedah caesar. Yes, it was my third caesarean section. Seperti saat hamil anak kedua, aku selalu berkeinginan untuk melahirkan pervaginam atau sering disebut melahirkan normal, tetapi dokter SpOG yang merawatku sejak awal kehamilan anak ketiga ini tidak menyetujui rencanaku, apalagi indikasi caesarku adalah indikasi yang menetap; panggul sempit. Aku mengalihkan pikiranku untuk menyiapkan diri sebaik mungkin menghadapi persalinan anak ketiga ini. Aku selalu jaga asupan makanan dan meluangkan waktu istirahat demi menjaga vitalitas tubuhku, menjaga tekanan darah dan berat badan agar terhindar dari komplikasi kehamilan. Alhamdulillah semua tercatat normal sepanjang kehamilan. Hanya 1 kali tekanan darahku melonjak hingga 150/100, tetapi penyebabnya diketahui yaitu kondisi psikis yang menekanku. Saat itu usia kehamilan 5 bulan, aku terpeleset di kamar mandi. Aku sangat ketakutan sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Dokter memintaku cek urin untuk mengecek ada tidaknya protein dalam urin berkaitan dengan melonjaknya tekanan darahku itu. Apabila ada, kemungkinan aku terkena pre eklampsia (keracunan kehamilan), apabila tidak ada atau negatif, dokter akan mencari penyebab lainnya. Alhamdulillah hasil cek urin menunjukkan negatif proteinuria. Dokter menyimpulkan aku hanya tegang saja. Memang benar, apabila mengalami kecemasan berlebih dan tidak bisa mengendalikan diri, tekanan darahku akan naik. Dokter menghimbauku untuk istirahat di rumah selama 2 hari. Tekanan darahku kembali normal di waktu kontrol kehamilan berikutnya.
Kadang aku masih ragu pada diri sendiri, apakah aku akan mampu menjalani peran sebagai ibu tiga anak dengan kondisi baru seperti ini? Kondisi baru berarti kondisi yang tidak sama dengan waktu di Bandung dulu. Dulu aku masih tinggal di rumah Mama Papaku, sekarang aku merantau hanya bersama keluarga kecilku, jauh dari orang tua dan kerabat. Aku dan Mas Halim sepakat memilih persalinan di Gresik saja dengan berbagai pertimbangan.
Setelah memastikan akan menjalani operasi caesar lagi, kami mengajukan tanggal 13 Desember 2014 untuk pelaksanaan operasi. Tidak ada alasan khusus di balik pemilihan tanggal tersebut, hanya menuruti saran dokter saja.
Hari itu, Sabtu, 13 Desember 2014, operasi dijadwalkan jam 8 pagi tetapi mundur karena alasan teknis. Infus sudah dipasang, tinggal menunggu saja. Jam 9 perawat masuk dan membawaku ke gedung lain tempat beradanya ruang operasi.  Perasaanku begitu datar saat itu. Aku ingin segera bertemu bayiku. Rasa takut dan ingatan ketidaknyamanan ruang operasi saat persalinan sebelumnya sempat muncul namun mampu aku tepis secepat mungkin. Membayangkan bayi mungil yang akan diletakkan di dadaku kemudian dia menyusu, sangat efektif melenyapkan ketakutan dan ketidaknyamanan. Pikiran-pikiran mengenai kematian, komplikasi dsb sudah aku pasrahkan pada Allah. Aku hanya ingin segera menyelesaikan persalinan ini, bertemu dengan anakku yang selama berbulan-bulan berjuang bersama menjalani kehamilan yang tidak mudah. Aku sudah siap menghadapi semua risiko. Ya, aku siap…
Dokter anestesi menyuntikkan obat…seketika separuh bawah tubuhku seperti geli dan kesemutan kemudian mati rasa. Setelah itu kateter dipasang. Selanjutnya aku hanya diam mendengarkan dokter-dokter dan paramedis berbicara sambil menjalankan operasi. Sekitar 10 menit kemudian perawat mendekatiku dan menyampaikan saat itu bayinya akan dilahirkan dan tubuhku akan disuntikkan obat induksi melalui infus. Perawat tsb menginformasikan bahwa obat ini akan menyebabkan mual dan menyebabkan mulut terasa pahit. Benar saja, sesaat setelah obat disuntikkan, mulutku terasa asam dan pahit. Tidak lama kemudian, dokter dan paramedia berseru dan mengatakan, “Alhamdulillah, cewek, Bu!”
Kudengar tangis bayi yang sudah lama aku rindukan itu. MasyaAllah… dia bayiku..anak ketigaku.. beratnya 3400 gram dan panjang 50 cm. Aku ingin segera keluar dari ruangan itu dan memeluknya. Aku terharu…entah bagaimana melukiskannya. Aku masih dipercaya Allah untuk memiliki anak lagi. Di hari itu, 13 Desember 2014, jam 9.14 WIB aku resmi menjadi ibu beranak 3!

February 7, 2015

Cinta Sudah Lewat

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 10:37 pm

image

Gambar di atas adalah status facebook saya di akhir bulan Oktober 2014. Beberapa saat sesudah saya posting itu, jumlah komentar cepat sekali bertambah. Notifikasi di fb saya terus berdatangan sampai beberapa hari sesudahnya. Komentar itu berhenti di angka seratus tiga puluh sembilan!!!
Hmm…
Segitu banyakkah yang mengalami?
….

December 8, 2013

Hari ketiga di RSSG

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 7:18 am

Pagi tadi diukur tekanan darah, 140/90, padahal itu aku dalam posisi tidur dan baru terjaga. Suster juga heran padahal aku baru aja tidur. Duh…makin cemas aja. Kenapa ya..? Biasanya tekanan darahku 110-120… Katanya mungkin stres… Entahlah. Aku sendiri bingung. Yang aku rasakan sekarang memang kepala agak berat, semacam mengantuk gitu. Kupikir berat kepala dan kantuk ini disebabkan aku minum obat braxidin, yang efek sampingnya memang bikin ngantuk. Aku tidak merasa lemas, tadi masih bisa mandiin Adik, kebetulan juga infus lagi dilepas karena bengkak. Jadi ya rasanya sih biasa aja, ga berasa tuh tensinya naik.
Udah hari ke-3 di RS. Besok Aa ujian. Belum tau bisa pulang ke rumah hari ini apa engga..soalnya ya tensinya belum stabil..kemarin normal, pagi ini cenderung tinggi. Gimana ini? Semoga aku bisa kelola stres ini. FYI, ini opname kedua kali, bulan November kemarin baru aja opname 5 hari (12-16 November 2013). Masih dengan diagnosa yang sama: dispepsia. Hasil endoskopi: gastritis erosif.
Aku pengen segera sehat dan beraktivitas normal, mengurus suami+anak-anak. Kuatkan aku, ya Allah.

April 1, 2013

Ketika Pernikahan Harus Berakhir

Filed under: Psikologi — by chandraniafastari @ 6:24 am
Tags: , ,

Kemarin di pernikahan Opik, ketemu seorang dosen yang katanya sudah bercerai dari suaminya. Berdasarkan informasi dari mahasiswa-mahasiswanya, dosen tersebut memang jarang berbagi mengenai kehidupan pribadinya, terutama pernikahannya. Paling banter beliau berbagi tentang anaknya. Ketika berbicara mengenai relasi perempuan dan laki-laki dalam pernikahan, beliau menekankan pentingnya kenyamanan di dalamnya. Apabila salah satu dari pasangan tidak bisa berkembang dan merasa tidak nyaman tanpa adanya titik temu yang mampu memperbaiki keadaan tersebut, hubungan tidak perlu dilanjutkan alias bercerai. Kadang saya merasa ada pesan-pesan subjektif yang terselip dari pernyataan beliau…tetapi setelah saya telaah lagi, apa yang disampaikan bukan hal yang salah. Bukankan dalam pernikahan memang dibutuhkan kenyamanan? Bukankah jika semua upaya telah dilakukan dan akhirnya mentok, bercerai bisa menjadi solusi? Untuk apa bertahan dalam pernikahan yang menyiksa hanya karena mempertimbangkan kesejahteraan anak-anak (bagi yang telah memiliki keturunan)? Bukankah dengan diakhirinya pernikahan akan lebih membebaskan himpitan dan tekanan psikis seseorang?
Saya hanya mencoba berempati pada orang-orang yang tidak bisa lagi melanjutkan ikatan pernikahan. Sangat mungkin permasalahan yang mereka hadapi sudah sangat pelik dan tidak menemui solusi terbaik. Jika memang cinta, seharusnya saling belajar untuk merespon kebutuhan pasangan DENGAN TEPAT. Belajar adalah bukti kesungguhan… Sementara enggan belajar dan tidak mau introspeksi serta mengakui kekurangan adalah bentuk kesombongan.
Dalam salah satu twit-nya di @JamilAzzaini, Kakek Jamil menuturkan, saya agak lupa persisnya, tetapi kira-kira begini: pernikahan adalah ibadah yang paling lama, untuk itu carilah pasangan yang mau belajar dan terus berbenah. Semoga Allah memampukan kita dalam menjalankan amanah rumah tangga ini. Aaamiin…

May 14, 2012

Merindu

Filed under: Uncategorized — by chandraniafastari @ 4:58 am

Betapa saya merindukan perbincangan hangat, yang mengalir, memancarkan segala emosi, menghidupkan sisi hati yang gelap.
Betapa benak ini mendamba kembali suasana penuh ketulusan. Tatap yang penuh atensi, indera dengar yang aktif berfungsi, dan gerak tubuh yang tampil senada konteks bincang.
Betapa inginnya berada dalam suatu saat yang penuh dengan kehangatan, saat-saat membicarakan kisah bermutu, jauh dari ghibah dan kesombongan.
Betapa pedih kala saya begitu ingin berjumpa dengan seseorang yang begitu polos dan apa adanya, bercakap dengan asyik, tertawa penuh ekspresi. Begitu sederhana, namun teramat mahal untuk dicapai.
Kumerindu…
Entah bagaimana mencegahnya hadir dalam mimpi di setiap malamku
Tak ada kuasa…
Hanya hati yang mampu menceritakan kembali segala belenggu dalam benak ini
Hanya hati yang bisa mengerti
Hanya hati yang lantang menjawab ‘kau tengah tersiksa’
Hanya hati yang berani mengatakan ‘kumerindu’…

Posted with WordPress for BlackBerry.

December 9, 2011

Untuk Sebuah Tanya

Filed under: Psikologi — by chandraniafastari @ 12:57 am
Tags: , ,

Saya baru mengerti, betapa garis hidup ini begitu cermat mengatur saya. Setiap peristiwa dalam kehidupan saya, ternyata seluruhnya terprogram begitu baik oleh Sang Pemberi Hidup dengan tujuan melindungi saya, menjaga saya, dan menuntun saya agar selamat. Dengan garis hidup tersebut saya dijauhkan dari berbagai hal kontroversial yang bisa saja saya jadikan pilihan hidup, misalnya tidak menikah (untungnya 6 tahun lalu saya dipertemukan dengan jodoh saya, jika tidak? Wow….)
Belakangan ini saya beberapa kali merenung dan membayangkan, apa jadinya jika di saat usia 27 tahun ini saya belum menikah? Tidak perlu berlama-lama menemukan jawaban, pasti saya memilih untuk sendiri; tidak menikah. Saya akan lebih nyaman dengan kesendirian. Saya mampu hidup dengan kenangan-kenangan indah yang pernah saya lalui bersama orang-orang yang pernah berarti di sebuah masa dalam hidup saya. Kenangan-kenangan tersebut sanggup memberikan energi bagi saya untuk jalani hidup. Saya merasa sudah cukup dengan memiliki orang tua, saudara-saudara, sahabat-sahabat, dan orang-orang baik lainnya sekeliling saya. Kebaikan, kasih sayang, dan kebersamaan dengan mereka bagi saya cukup.
Saya membayangkan jika masih lajang, saya pasti sibuk dengan berbagai pekerjaan dan jalan-jalan. Saya akan mengantar mama ke pasar atau kemanapun mama pergi. Saya akan mendatangi kota-kota yang pernah jadi tempat tinggal saya, bertemu orang-orang lama. Orang-orang lama yang masih berhubungan baik. Merekalah bagian dari sejarah, yang dapat kusebut ‘kenangan’ dan amat kupercaya mampu memberikan energi di masa kini.
Saya melihat beberapa kejadian dan kemudian menjadi sering berpikir, bagaimana bisa 2 orang sahabat lama yang tidak berjumpa belasan tahun, saat bertemu terlihat luwes dan masih sebaik belasan tahun lalu? Padahal saat itu belum ada alat komunikasi dan gadget-gadget secanggih hari ini. Mereka saling memeluk, menangis, tertawa, melepas rindu. Begitu bahagia.
Saya pun terheran-heran melihat semacam energi kehidupan pada seorang nenek berusia 90-an tahun saat ia bercerita kisah-kisah indah dalam hidupnya dengan raut wajah riang, intonasi yang stabil, serta gerak tubuh yang padu dengan ceritanya.
Bagaimana bisa? Saya teramat yakin, kedua sahabat tadi dipersatukan oleh kenangan masa lalu, sama halnya dengan si nenek 90-an tahun yang semangatnya seketika bangkit saat menceritakan kenangan hidupnya. Mereka adalah individu-individu yang ‘sendiri’. Mereka hidup dan mempertahankan jiwa mereka dengan kenangan. Kenangan yang indah, kenangan pemberi semangat, pemberi kekuatan.
Barangkali ketika saya belum menikah di usia 27 ini, saya akan bertahan untuk sendiri. Saya akan melanjutkan hidup hanya dengan kenangan. Saya akan melangkah memasuki masa depan seorang diri tanpa seorang laki-laki yang saya cintai di sisi saya. Saya akan melanjutkan hidup dengan menggandeng bayangan seseorang. Seseorang dari masa lalu. Di masa lalu sosok seseorang itu sangat nyata.. Seseorang yang pernah saya dambakan menjadi bagian dari jalan panjang dalam meraih impian dan menemani saya dalam hidup. Sekali lagi, saya hanya akan bersama seorang bayangan. Bayangan yang akan menemani saya sampai ujung usia…yang akan mampu membuat saya merasa bahagia dan merasa cukup.

Mengerikan…!
Ehm..tetapi syukurlah, saya tidak sampai melajang di usia 27 ini🙂 Kenyataannya, hidup saya telah diisi penuh dengan begitu banyak kesibukan, aktivitas rumah tangga, kuliah S2, dan berbagai hal lain… Saya hidup di masa ini, dengan energi yang segar, bukan semata-mata dari kenangan. Tidak dapat saya bayangkan bagaimana orang tua saya jika saya menjadi seperti yang saya paparkan tadi?
Benarlah, betapa Sang Pemberi Hidup telah mengatur kehidupan saya sebaik-baiknya sehingga saya bisa tetap berada di jalan yang seharusnya. Saya telah dijaga dan terlindung dari keputusan-keputusan gila. Dari keputusasaan, dan kesendirian.

—oOo—

December 6, 2011

Begah Otak

Filed under: Psikologi — by chandraniafastari @ 11:18 pm

Hadeuh, judulnya nggak banget ya. Begah otak…biasanya begah dipakai untuk mewakili keadaan “perut yang penuh”, ini malah saya pasangkan dengan kata “otak”. Entah musti pakai kata-kata apa saya menggambarkan kondisi kepenatan saya ini. Terlalu banyak denger cerita orang lain dan tidak saya tanggapi karena merasa sedang tidak siap, eh malah memberi efek begah otak buat saya. Penat. Saya pengen ceritain masalah-masalah beberapa orang yang bercerita pada saya, tentu dengan menyamarkan identitas. Nah, pekerjaan menyamarkan identitas orang lain ini juga buat saya cukup memakan energi, soalnya ketika sedang menguraikan sesuatu, semua mengalir dan refleks muncul nama aslinya..buyarlah konsentrasi saya, maklum gampang teralih atensinya nih hihihiii… OK lah nanti saya janji cerita, barangkali nulis aja dulu ya, nah pas mau di post jangan lupa edit extra ketat, betul?? ha ha ha… Intinya pengen berbagi cerita ya, biar ga begah-begah amat ni otak…. Just wait and see, OK?

December 5, 2011

Gaun Pengantin Muslimah

Filed under: pernikahan — by chandraniafastari @ 11:41 am
Tags: , , ,
Chandrania Fastari
Walimatul ‘Ursy (17 Desember 2005)

Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Desember… Bagi saya, bulan ini tergolong istimewa. Enam tahun yang lalu, tepat di bulan inilah saya menggenapkan separuh agama saya; menikah! Saya ingin sedikit bernostalgia dengan berbagi beberapa hal mengenai busana yang saya kenakan saat resepsi.

Saya adalah seorang muslimah yang berusaha mensyiarkan Islam di keseharian saya. Saya juga mencoba mewujudkannya dalam pernikahan saya, dengan menjadikan nuansa Islami sebagai konsep pernikahan saya tersebut. Nuansa islami yang saya maksud antara lain dengan memisahkan tamu laki-laki dan perempuan; ada dua pelaminan dalam 1 gedung. Tamu dipisahkan dengan pohon palem setinggi manusia yang disusun “membelah gedung”. Yang kedua, saya meminta pada pihak vendor untuk memperbanyak kursi agar tamu tidak makan sambil berdiri. Ketiga, hiburan yang ditampilkan adalah nasyid, munsyid laki-laki. Keempat, makanan halal dan thayyib;insyaAllah. Mungkin memang masih jauh dari sempurna, tetapi semoga saja niatan dan ikhtiar saya tetap bernilai ibadah di hadapan Sang Khalik.

Setelah menetapkan konsep, saya segera meminta perias untuk mendesain baju pengantin yang akan saya kenakan. Saya ingin menggunakan gamis longgar dan nyaman, ringan, cantik (hi hii…). Ibu Roro Rojak–perias saya–memberikan 2 pilihan desain. Desain yang saya pilih adalah yang terpampang di foto. Gaun tersebut terdiri dari dua pakaian, yang pertama gaun biru muda polos untuk baju bagian dalam, dan yang kedua juga berbentuk gamis berbahan tile, aksen umpak (tumpuk) dihias payet di bagian depan mulai dari dada sampai perut. Saya juga meminta agar bagian dada saya tertutup. Bahan yang digunakan untuk menutup dada berbahan tile polos, dipasang di busana saya sedemikian hingga menutup dada.  Mengenai riasan, saya meminta Ibu Roro tidak mengerok alis saya, saya takut dilaknat Allah, daripada mengurangi keberkahan prosesi pernikahan saya. Terima kasih Ibu Roro, yang tidak memaksa saya untuk dikerok alisnya.

Demikian cerita saya, lagi pengen nostalgia, dan berbagi desain busana pengantin…semoga berguna, ya…

Next Page »

Blog at WordPress.com.