GET THE FULLY FUNCTIONING SELF

October 26, 2010

Neraka Dunia

Filed under: Kasus KDRT,Psikologi — by chandraniafastari @ 12:38 pm
Tags:

Berikut saya paparkan hasil anamnesa saya dengan seorang ibu berusia 45 tahun, pasien saya di Poli Psikologi sebuah RS di Bandung:

Bahaya sekali jika kita mengambil keputusan penting dalam hidup ini dalam keadaan sedang impulsif. Misalnya pernikahan. Ini yang terjadi pada seorang wanita yang memutuskan menerima pinangan seorang lelaki, yang dikenalkan oleh temannya. Saat itu ia ingin sekali menikah, kebetulan lelaki inilah satu-satunya orang yang datang meminangnya. Ia menganggap enteng sifat buruk orang yang meminang tersebut (lebih tepatnya tidak berpikir panjang) yang ternyata sangat fatal akibatnya sehingga setelah menikah semua baru terasa. Begitu mencekamnya suasana rumah tangga yang dibangun. Suaminya tidak mengindahkan Allah, menggunakan hukum-hukum Islam sesuai kebutuhannya saja, untuk melegitimasi, untuk pembenaran atas nafsunya, pemikirannya saja. Ia mau diatur Islam hanya saat ia ingin menyakiti orang lain, termasuk istrinya. Ketika ia bersalah, tidak mau disalahkan, menjauhkan bahkan tidak menggunakan aturan Islam. Betapa mengerikannya, ternyata perangainya buruk, sangat temperamental, emosinya fluktuatif. Terbukti, dalam pernikahannya yang baru berjalan 4 bulan, ancaman talak sudah diumbarnya. Umpatan kasar (mengatakan istri goblok, kurang ajar, mentang-mentang orang kaya, serta semua perkataan yang membunuh karakter istrinya) hampir setiap saat terucap darinya. Istrinya merasa frustrasi, sampai-sampai ia mengistilahkan keadaan rumah tangganya bagai neraka dunia. Saat hamil pun, suaminya tidak menunjukkan perubahan apapun, padahal saat hamil, kondisi istri harus dijaga baik itu fisik maupun mental. Menurut pengakuan istrinya, ia tetap diperlakukan kasar, dijadikan tempat pelampiasan emosi suaminya, tetap mendapat ancaman…

Saya sempat bertanya-tanya, apa sih yang menyebabkan suaminya berbuat demikian… padahal setau saya, istrinya selama ini adalah sosok yang baik hati. Saya terperangah tidak percaya dengan semua cerita ini. Ah saya merinding, tidak sanggup menguraikan permasalahan mereka lebih jauh lagi. Saya pun harus banyak bertanya pada para psikolog, maklum saya masih amatir sekali, perlu bimbingan, paling tidak saya harus mencari cara untuk menenangkan diri saya sendiri dalam menghadapi kasus tersebut, agar terlihat tenang dan profesional dalam mengintervensi. Sekali lagi ini kisah nyata… dan istighfarlah yang menjadi aktivitas utama saya ketika berhadapan dengan klien (istrinya).

Allah, bantu saya ya…

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: